ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kanker payudara merupakan salah satu jenis penyakit ganas dengan angka kejadian yang tinggi baik di Indonesia maupun di dunia, kanker payudara sendiri merupakan pembunuh nomor satu di Indonesia. Kemoterapi adalah obat-obatan sitostatik yang bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan dan penyebaran sel kanker atau bahkan dapat melenyapkan sel kanker. Pemberian kemoterapi dalam bentuk regimen juga diharapkan menurunkan resistensi sel kanker terhadap pengobatan. Untuk mencapai tujuan terapi tersebut, digunakan regimen terapi yang bervariasi dan kompleks. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran regimen kemoterapi dan mengetahui pembiayaan obat kemoterapi kanker payudara di RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini deskriptif yang bersifat retrospektif yang menjalani kemoterapi di RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2022. Penelitian menunjukkan hasil bahwa pasien kanker payudara dengan regimen CAF ( Cyclofosfamid – Andriamicin / Doxorubicin – Fluouracil ) yang diberikan pada hari pertama secara intravena dan sejalan dengan Kemenkes tahun 2017 menyatakan bahwa regimen CAF termasuk regimen first line pada kanker payudara. Hasil penelitian menunjukkan jenis obat kemoterapi kanker payudara dari 335 pasien didapatkan 123 ( 37% ) pasien dengan regimen kombinasi 3 golongan yaitu antrasiklin, antimetabolite dan alkylating agent dengan biaya pengobatan persiklus sebesar Rp.1.550.000. Distribusi Frekuensi regimen kemoterapi yang terbanyak kedua di RSUD Ulin Banjarmasin dari kombinasi 2 obat didapatkan 88 pasien 26,2 % dengan golongan taxane dan alkylating agent. Kombinasi carboplatin dan paclitaxel ditoleransi baik pada pengobatan lini pertama ca mammae metastatik dibandingkan dengan penggunaan carboplatin tunggal.Carboplatin yang dikombinasi dengan paclitaxel menghasilkan penurunan insiden emesis dan neurotoksisitas dibandingkan cisplatin meskipun mengakibatkan masalah myelosuppression yang lebih besar. Dengan biaya pengobatan persiklus sebesar Rp. 1.950.000. Kesimpulan dari penelitian didapatkan dengan regimen didapatkan kombinasi dengan regimen CAF ( Cyclofosfamid – Andriamicin / Doxorubicin – Fluouracil ) didapatkan 123 pasien (37%), dan yang kedua dengan kombinasi taxan dan alkylating agent didapatkan 88 pasien ( 26,2 % ).
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Swamedikasi merupakan perilaku mengkonsumsi obat sendiri berdasarkan diagnosis terhadap gejala sakit yang terjadi. Maag merupakan salah satu dari banyak penyakit ringan yang bisa ditangani dengan swamedikasi. Meskipun swamedikasi hanya dilakukan untuk mengobati penyakit ringan namun dalam penerapannya pengetahuan mengenai ketepatan pengobatan sesuai ketentuan tersebut terkadang tidak diketahui ataupun tidak didapatkan oleh masyarakat, sehingga swamedikasi menjadi kurang efektif karena tidak dilakukan dengan benar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan perilaku swamedikasi penyakit maag, serta untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap perilaku swamedikasi penyakit maag pada pelajar di SMAN 1 Kuripan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei - Juni 2023 dengan metode pengambilan sampel berupa purposive sampling dan desain penelitian cross sectional. Responden pada penelitian ini merupakan 43 pelajar di SMAN 1 Kuripan yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen pada penelitian ini adalah kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya oleh peneliti. Pengolahan data dengan cara rekapitulasi hasil kuesioner dan dianalisis secara bertahap dengan menggunakan uji korelasi Pearson pada SPSS versi 25 dengan persyaratan p-value < 0,05. Penelitian ini menghasilkan nilai tingkat pengetahuan swamedikasi responden yang tinggi sebesar 34,88%, sedang sebesar 55,81%, dan rendah sebesar 9,31%. Perilaku swamedikasi responden yang didapatkan berupa baik sebesar 44,18%, cukup baik sebesar 53,48%, dan kurang sebesar 2,34%. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan perilaku swamedikasi responden dengan taraf signifikansi 0,001 < 0,05. Koefisien korelasi hubungan tingkat pengetahuan dan perilaku responden sebesar 0,497 dengan koefisien korelasi cukup.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Indonesia merupakan negara penghasil utama minyak atsiri seperti minyak sereh, minyak cengkeh, minyak kenanga, minyak akar wangi, minyak cendana, dan minyak nilam. Cymbopogon nardus (L) Rendle memiliki komponen minyak esensial yang paling penting yaitu geraniol dan sitronelal. Tujuan dari tinjauan literatur ini adalah untuk mengetahui kadar geraniol dan sitronelal dari tanaman sereh wangi. Metode penelusuran menggunakan kata kunci Cymbopogon nardus,kadar, Geraniol,Sitronelal dicari artikel pada https://scholar.google.com/ di skrining kembali sehingga didapatkan 6 artikel,Semua artikel tersebut merupakan jurnal ilmiah nasional 3 dan internasional 3 yang terbit pada tahun 2010-2019. Hasil dari tinjauan literatur ini, semua menggunakan metode destilasi uap untuk mendapatkan minyak atsiri sereh wangi. Instrumen yang digunakan adalah GC-MS didapatkan hasil kadar geraniol dan sitronelal dengan persentase terbesar yaitu geraniol 60,6% dan sitronelal sebesar 5,8%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman ciplukan merupakan tanaman yang dapat berkhasiat sebagai antibakteri. Adanya aktivitas antibakteri dari tanaman ciplukan terhadap bakteri Staphylococcus aureus disebabkan karena adanya kandungan metabolit sekunder dalam tanaman ciplukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri pada tanaman ciplukan terhadap bakteri Staphylococcus aureusberdasarkan tinjauan literatur. Penelitian ini dilakukan dengan metode tinjauan literatur. Penelusuran artikel melalui databa Physalis, Staphylococcus aureus -artikel tersebut kemudiaan ditelaah hasilnya uji antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Hasil penelitian tinjauan literatur menunjukan tanaman ciplukan memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Daya hambat yang dihasilkan berbeda dari tiap artikel. Dari 6 artikel menunjukan daya hambat terbesar terdapat pada artikel 1 yaitu sebesar 30 mm, sedangkan daya hambat terkecil terdapat pada artikel 2 yaitu sebesar 1 mm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes Mellitus (DM) merupakan kelompok penyakit metabolik kronis dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Pengobatan penyakit ini dibutuhkan waktu jangka Panjang, sehingga kepatuhan minum obat menjadi faktor yang sangat penting. Namun demikian belum banyak penelitian yang menguji hubungan antara tingkat kepatuhan minum obat pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan karakteristik pasien. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran karakteristik, gambaran kepatuhan minum obat, dan mengetahui apakah ada hubungan antara karteristik dengan tingkat kepatuhan minum obat pasien diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas S. Parman Kota Banjarmasin. Penelitian ini adalah penelitian observasional dalam bentuk cross sectional. Pengambilan sampel dengan teknik consecutive sampling sampai periode penelitian yang telah ditetapkan. Sampel yang didapat dari penelitian ini sebanyak 76 pasien. Pengukuran kepatuhan minum obat menggunakan metode pill count. Data hasil penelitian dianalisis dengan program SPSS versi 16.0, uji Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran karakteristik pasien diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas S. Parman Kota Banjarmasin adalah jenis kelamin yang didominasi oleh perempuan 51 sampel (67,2%), umur didominasi oleh kategori 46-55 tahun 40 sampel (52,6%), tingkat pendidikan didominasi oleh kategori SMA yaitu sebanyak 34 sampel (44,7%), pekerjaan didominasi oleh ibu rumah tangga sebanyak 33 sampel (60,6%), lama menderita pasien didominasi dengan lama derita >5 tahun 29 sampel (39,1%), jumlah obat didominasi dengan 1 jenis obat berjumlah 50 pasien (65,7%), karakteristik penyakit penyerta pasien di dominasi oleh pasien tanpa komorbid 41 sampel (53,9%). Gambaran tingkat kepatuhan minum obat pasien tingkat kepatuhan tinggi sebanyak 54 pasien (71,1%) patuh dan tidak patuh 22 pasien (28,9%). Ditemukan adanya hubungan yang signifikan (p0,05) pada karakteristik pendidikan, pekerjaan, lama menderita, jumlah obat, dan penyakit penyerta dengan tingkat kepatuhan minum obat pasien diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas S. Parman Kota Banjarmasin.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengkajian resep merupakan salah satu terjadinya pencegahan kesalahan pengobatan, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 73 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek bahwa dalam pelayanan resep harus melakukan pelayanan administratif yang meliputi nama pasien, umur pasien, jenis kelamin pasien, berat badan pasien, nama dokter, nomor SIP dokter, alamat dokter, nomor telepon dokter, paraf dokter dan tanggal resep. Dan pelayanan farmasetik yang meliputi bentuk sediaan, kekuatan sediaan, stabilitas dan kompatibilitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase kesesuaian resep secara administratif dan farmasetik berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan standar pelayanan kefarmasian di Apotek nomor 73 tahun 2016. Penelitian dilakukan di Apotek Tasya Mukarramah Banjarmasin dengan menggunakan metode rancangan penelitian non eksperimental yang bersifat deskriptif analitik. Populasi yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 6.672 lembar resep, dengan sampel sebanyak 378 lembar resep yang terdiri dari 136 sampel resep racikan dan 242 sampel resep non racikan di Apotek Tasya Mukarramah Banjarmasin tahun 2021. Cara pengambilan sampel menggunakan teknik acak yang proposional. Dengan menggunakan lembar observasional menurut Peraturan Menteri Kesehatan standar pelayanan kefarmasian di Apotek nomor 73 tahun 2016. Data yang diperoleh di analisis menggunakan program Microsoft Office Excel 2013. Hasil penelitian dari sampel 378 lembar resep keseluruhan tidak ada yang memenuhi kelengkapan administratif dan farmasetik
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyakit Diabetes Melitus (DM) masuk dalam 10 kategori penyakit kronik di Indonesia khususnya Provinsi Kalimantan Selatan prevalensi penyakit DM menduduki peringkat ke 15 sebesar 1.8 %. Penyakit diabetes melitus membutuhkan pengobatan jangka Panjang sehingga efektivitas dan efek samping pengobatan dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Kualitas hidup pasien diabetes melitus dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor demografi yang meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, komplikasi penyakit, jumlah obat yang diterima, dan riwayat DM. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pasien DM serta melihat apakah karakteristik demografi berpengaruh terhadap kualitas hidup. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan desain penelitian cross sectional. Pengumpulan data dilakukan secara prospective. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode consecutive sampling dengan jumlah 75 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data kualitas hidup dilakukan dengan wawancara dan pengisian kuesioner EQ-5D. Data karakteristik demografi diperoleh dengan cara menanyakan langsung kepada sampel serta di validasi dengan melihat langsung data dari Rekam Medik pasien. Data hasil penelitian dikaji menggunakan alat hitung kualitas hidup. Uji korelasi Chi Square digunakan untuk melihat hubungan karakteristik dengan kualitas hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel penelitian yang memiliki kualitas hidup baik sejumlah 42 sampel (56%) dan yang memiliki kualitas hidup buruk sejumlah 33 sampel (44%). Pengukuran Karakteristik sampel menggunakan spss didapatkan berupa jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, jumlah obat yang diterima, komplikasi penyakit, dan riwayat DM keluarga tidak memiliki korelasi yang signifikan dengan kualitas hidup pasien DM. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sampel penelitian didominasi oleh pasien dengan kualitas hidup baik dan karakteristik sampel tidak memiliki korelasi dengan kualitas hidup pasien DM.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu faktor penting dalam keberhasilan terapi hipertensi adalah kepatuhan dalam pengobatan yang dapat dilihat dari kepatuhan pengambilan obat. Kepatuhan pengambilan obat hipertensi juga dapat ditingkatkan dengan penggunaan leaflet edukasi. Tujuan penelitian ini untuk kepatuhan pengambilan obat hipertensi sebelum dan sesudah diberikan leaflet edukasi di UPTD Puskesmas Ampah Kabupaten Barito Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode cross sectional untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan kepatuhan pengambilan obat hipertensi di UPTD Puskesmas Ampah Kabupaten Barito Timur. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif terhadap rekam medis dan prospektif terhadap resep dan lembar pengambilan obat pasien. Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik consecutiv sampling di mana terdapat 37 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data kepatuhan menggunakan Medication Possession Ratio (MPR) dan analisis data terkait perbedaan kepatuhan pengambilan obat sebelum dan setelah pemberian leaflet edukasi menggunakan SPSS 17.0 dengan uji Wilcoxon selama periode April-Juni 2022. Data analisis ditampilakan secara tabel deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa leaflet edukasi efektif meningkatkan kepatuhan pengambilan obat hipertensi di UPTD Puskesmas Ampah Kabupaten Barito. Hasil dari kepatuhan minum obat sebelum diberikan leaflet didapat sebesar 45,95% (17 orang) patuh, 54,05% (20 orang) tidak patuh dalam pengambilan obat, dan sebesar 91,89% (34 orang) patuh, dan 8,11% (3 orang) tidak patuh dalam pengambilan obat setelah diberikan leaflet. Hasil Asymp. Sig. (2-tailed) < 0,05 dimana ada perbedaan kepatuhan pengambilan obat sebelum dan sesudah pemberian leaflet edukasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Beligo merupakan salah satu tanaman pertanian yang dibudidayakan untuk diambil buahnya. Biasanya buah beligo menjadi bahan membuat sayuran, manfaat buah beligo yaitu dapat membantu mencegah penyakit flu. Kandungan vitamin C dan zinc pada buah beligo berperan penting untuk meningkatkan fungsi kekebalan tubuh dan mencegah virus flu. Buah yang berwarna hijau ini juga mampu mengurangi kemungkinan terkena radang paru-paru dan stroke. Namun hingga saat ini penelitian mengenai aktivitas antibakteri daun beligo belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun beligo terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan nilai Kadar Hambat Minimum (KHM). Jenis penelitian ini adalah penelitian non eksperimental. Daun beligo diambil dari hutan Kuala kapuas, Kalimantan Tengah. Sampel penelitian ini adalah ekstrak etanol 70% daun beligo yang diperoleh dengan cara maserasi. Ekstrak diuji aktivitas antibakterinya menggunakan konsentrasi 3,12%; 6,25%; 12,5%; dan 25%. Kontrol negatif menggunakan aquadest. Pengujian dilakukan dengan metode uji difusi sumuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun beligo dapat menghambat pertumbuhan bakteri E. coli. Konsentrasi hambat minimum ekstrak daun beligo yaitu 6,25%. Dengan diameter daya hambat rata-rata 8,28 mm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Coronavirus termasuk virus yang menyerang saluran pernapasan. Faktor virus dengan respon imun menentukan keparahan dari infeksi Covid-19. Prevalensi kasus Covid-19 di dunia pertengahan September 2020 mencapai 29.155.581 dan kematian tercatat 926.544 jiwa dengan tersebar ke 216 negara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana profil pengobatan pasien isolasi Covid-19 rawat inap berdasarkan tingkat keparahan pada tahun 2021 di RSUD H. Badaruddin Kasim. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan cara observasi menggunakan data restrospektif rekam medis pasien Covid-19 pada tahun 2021 yang dilakukan di RSUD H. Badaruddin Kasim dengan menggunakan teknik sampling jenuh. Sampel sejumlah 631 lembar rekam medis. Analisis perhitungan data menggunakan Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukan bahwa profil pengobatan pasien isolasi Covid-19 rawat inap berdasarkan tingkat keparahan pada tahun 2021 sesuai dengan literatur manajemenn klinis tata laksana Covid-19 di Fasyankes. Pada tingkat keparahan tanpa gejala obat D-Vit 400 iu terdapat 6 sampel, ringan infus Paracetamol 1 gr 104 sampel, sedang infus Paracetamol 1 gr 151 sampel, dan berat infus Paracetamol 1 gr 137 sampel. Adapun daftar kategori golongan obat yang digunakan yaitu, mukolitik, antibiotik, antivirus, imunomodulator, kortikosteroid, analgetik-antipiretik, antikoagulan, OAINS, antioksidan, vitamin D dan vitamin C. Golongan obat yang dituliskan berdasarkan tingkat keparahannya yang didapatkan dari hasil observasi peneliti yaitu pada tingkat keparahan tanpa gejala, ringan dan sedang yang banyak dituliskan adalah golongan obat imunomodulator sedangkan pada tingkat keparahan berat golongan obat yang banyak dituliskan adalah golongan obat antibiotik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang serius,ditandai dengan adanya peningkatan tekanan darah dengan nilai sistolik ≥ 140 mmHg dan nilai diastolik ≥ 90 mmHg. Seiring berjalannya waktu apabila hipertensi tidak diobati dengan baik maka akan menimbulkan penyakit komplikasi kardiovaskular lainnya. Salah satu faktor penting dalam keberhasilan terapi hipertensi adalah kepatuhan. Kepatuhan minum obat dan kepatuhan pengambilan obat ulang pasien hipertensi merupakan hal penting karena hipertensi merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan tetapi harus selalu dikontrol atau dikendalikan agar tidak terjadi komplikasi yang dapat berujung pada kematian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kepatuhan minum obat dan kepatuhan pengambilan obat ulang pada pasien hipertensi di Apotek Panasea Banjarmasin. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan non-eksperimental yang bersifat observasional. Pengambilan data Kepatuhan minum obat secara prospektif dengan kuesioner MARS-5 periode April-Mei 2022 dan kepatuhan pengambilan obat ulang secara retrospektif dengan persamaan Medication Possession Ratio (MPR) periode Oktober 2021-Maret 2022. Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik total sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi di mana besar sampelnya berjumlah 42. Data hasil penelitian akan ditampilkan secara deskriptif dalam bentuk persentase. Hasil dari kepatuhan minum obat didapat sebesar 43% (18 orang) patuh dan 57% (24 orang) tidak patuh. Hasil dari kepatuhan pengambilan obat ulang didapat sebesar 36% (15 orang) patuh dan 64% (27 orang) tidak patuh.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Selada adalah sayuran yang banyak dikonsumsi segar. Selada cukupbanyak dikonsumsi secara segar karena memiliki kandungan gizi dan zat besi yang tinggi. Zat besi merupakan salah satu nutrisi terpenting bagi tubuh manusiakarena besi diperlukan untuk pembentukan sel darah merah. Kekurangan zat besi atau sering disebut anemia dipengaruhi oleh jenis sumber zat besi yang diseraptubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan membandingkankadar zat besi yang terdapat pada daun selada segar hijau dan ekstrak selada(Lactuca sativa L.). Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental yaitumenetapkan kadar zat besi pada daun selada segar hijau dan ekstrak selada denganmetode permanganometri lalu dibandingkan hasilnya menggunakan analisisstatistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar zat besi yang didapatkanpada sampel selada segar hijau adalah 0,068% ± 0,0017 dan ekstrak selada adalah0,295% ± 0,0465. Berdasarkan hasil uji statistik terdapat perbedaan kadar zat besi pada selada segar hijau dan ekstrak selada berdasarkan nilai Independent sampel ttest dengan nilai signifikansi (p) sebesar 0,001 (p<α).
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman matoa (Pometia pinnata) adalah salah satu tumbuhan yang dapat digunakan sebagai pengobatan tradisional. Pada penelitian sebelumnya disebutkan bahwa Ekstrak daun matoa (Pometia pinnata) mengandung senyawa flavonoid yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan. Pembuatan ekstrak matoa dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Ekstrak daun matoa kemudian diformulasikan dalam sediaan krim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui uji stabilitas fisik krim ekstrak daun matoa dan mengetahui formulasi yang memenuhi syarat uji stabilitas fisik krim Jenis penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan membuat krim ekstrak daun matoa dengan berbagai formulasi kemudian diuji stabilitas fisik. Krim dibuat menjadi 2 formula dengan variasi agen pengemulsi, kemudian diuji stabilitas fisik. Uji yang dilakukan meliputi pemeriksaan organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar, uji daya lekat, dan uji viskositas. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil uji stabilitas fisik sediaan krim ekstrak daun matoa dengan pengontrolan selama 21 hari dengan 6 parameter, formula 1 yang memenuhi syarat adalah uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, daya sebar dan viskositas. Sedangkan formula 2 yang memenuhi syarat adalah uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar dan viskositas. Berdasarkan hasil uji stabilitas fisik krim ekstrak daun matoa formulasi yang terbaik adalah formula 1 karena pada uji organoleptis tidak terdapat busa selama peyimpanan. Uji daya lekat yang lebih lama, dan nilai viskositas yang lebih besar.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyimpanan high alert yang tepat merupakan salah satu faktor penting dalam menjamin keselamatan pasien karena dapat menyebabkan kejadian yang tidak diinginkan jika dalam penyerahan ke pasien terjadi kesalahan. Kesesuaian penyimpanan high alert di puskesmas gadang hanyar Banjarmasin berdasarkan Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Tahun 2019 diperlukan untuk meminimalisir kesalahan dalam penyerahan untuk menjamin keselamatan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase kesesuaian penyimpanan high alert sebagai bahan evaluasi penyimpanan di Puskesmas Gadang Hanyar Banjarmasin. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Jenis data pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Penelitian ini dilakukan pada periode bulan Februari–April 2023 di Puskesmas Gadang Hanyar Banjarmasin. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik accidental sampling. Alat penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah lembar observasi. Jumlah keseluruhan obat high alert adalah (n=28) sampel, terdiri atas obat risiko tinggi (n=12); risiko tinggi yang termasuk LASA (n=6); LASA (n=7); dan elektrolit konsentrat tinggi (n=3) sampel. Analisis data menggunakan Microsoft Excel, berdasarkan kategori. Hasil penelitian kesesuaian penyimpanan berdasarkan Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Tahun 2019 sebesar 79% (20). Sedangkan kesesuaian berdasarkan kategori, obat risiko tinggi sebesar 50% (6), risiko tinggi yang termasuk LASA 67% (4), LASA (Look Alike Sound Alike) sebesar 100% (7), dan elektrolit konsentrat tinggi sebesar 100 % (4). Kesimpulan dari penelitian ini adalah presentase penyimpanan kesesuaian obat high alert secara keseluruhan di Puskesmas gadang Hanyar Banjarmasin sebesar 79% berdasarkan Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Tahun 2019.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kelakai (Stenochlaena palustris) merupakan tanaman paku-pakuan famili Blenchnaceae yang banyak terdapat di Kalimantan Tengah atau Kalimantan Selatan. Kelakai mengandung vitamin C yang dapat membantu memenuhi asupan tubuh. Vitamin C mudah larut dalam air sehingga apabila vitamin C yang dikonsumsi melebihi yang dibutuhkan, kelebihan tersebut akan dibuang dalam urine. Karena tidak disimpan dalam tubuh, vitamin C sebaiknya dikonsumsi setiap hari. Vitamin C adalah vitamin yang paling tidak stabil dari semua vitamin dan mudah rusak selama proses dan penyimpanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penentuan kadar vitamin C terhadap penyimpanan Batang kelakai. Jenis Penelitian ini adalah penelitian non eksperimental, dimana pada penelitian ini dianalisa penentuan kadar vitamin C pada penyimpanan. Waktu dan tempat penelitian pada bulan April sampai Mei 2023, di laboratorium Kimia Sekolah Tinggi IImu Kesehatan ISFI Banjarmasin. Sampel pada penelitian ini yaitu Batang kelakai yang diambil dengan metode purposive sampling. Batang kelakai disimpan pada suhu kamar (25-30ᴼC), Suhu lemari pendingin (2-8ᴼC) Selama 2 hari, diuji dengan metode titrasi iodimetri yang menggunakan Iodium sebagai titran dan kanji sebagai indikator untuk menganalisis kadar vitamin C dalam Batang kelakai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa batang kelakai mengandung vitamin C. Adapun kadar vitamin C yang didapatkan Batang Kelakai Segar sebesar 0,0621 % ± 0,0098, Pada penyimpanan suhu kamar sebesar 0,0378% ± 0,0093, kadar vitamin C dan penyimpanan di lemari pendingin sebesar 0,0432% ± 0,0093.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun pepaya (Carica papaya L.) mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan fenolik yang berfungsi sebagai antibakteri. Salah satu bentuk sediaan yang dapat diformulasikan untuk ekstrak daun pepaya adalah krim. Ekstrak daun pepaya kemudian diformulasikan dalam tipe M/A karena sediaan memiliki ciri tidak lengket dikulit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui uji sifat fisik sediaan krim ekstrak daun pepaya dan mengetahui formulasi yang memenuhi syarat dari hasil uji sifat fisik sediaan krim. Pada penelitian ini menggunakan penelitian eksperimental. Pembuatan ekstrak daun pepaya dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Pada skrining fitokimia ekstrak ditambahkan dengan pereaksi seperti HCl, mayer, NaOH, FeCl3, CH3COOH, dan H2SO4. Pada pembuatan krim ekstrak daun pepaya menggunakan metode peleburan. Kemudian sediaan krim di uji evaluasi sifat fisik yang terdiri dari uji organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, tipe krim, dan proteksi. Hasil ditampilkan dalam bentuk tabel kemudian dianalisis dengan uji statistik menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan dilanjutkan dengan uji Independent Sample T-test. Berdasarkan hasil skrining fitokimia yang positif mengandung senyawa yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, fenolik, dan terpenoid. Pada hasil penelitian uji sifat fisik dapat disimpulkan bahwa dari 7 parameter yang sudah di uji maka didapatkan pada formula 1 dan formula 2 seluruh parameter memenuhi persyaratan yaitu uji organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, tipe krim dan proteksi. Hasil dari uji sifat fisik pada formula 1 dan formula 2 memenuhi persyaratan, tetapi sediaan yang lebih baik antara formula 1 dan formula 2 adalah formula 1 karena hasil uji daya sebar yang lebih besar dibandingkan dengan formula 2.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
IFRS Rumah sakit bertugas dalam pengelolaan obat yaitu tahap perencanaan, pengadaan, distribusi dan penggunaan. Pengelolaan obat merupakan salah satu segi manajemen rumah sakit yang sangat penting dalam pelayanan kesehatan secara keseluruhan dan direncanakan dengan baik. Observasi pendahuluan menunjukkan adanya permasalahan masih banyak terdapat penulisan resep obat generik yang tidak sesuai dengan SOP rumah sakit. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan evaluasi pengelolaan obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Almasnyur Medika Banjarbaru Tahun 2022. Jenis Penelitian ini non-eksperimental dengan pendekatan secara cross sectional menggunakan lembar Observasi. Penelitian ini dilakukan di IFRS RSU Almansyur Medika Banjarbaru dan dilaksanakan pada bulan Februari – Mei 2023. Populasi dan sampel yaitu Rencana Kebutuhan Obat, Resep, Faktur pada periode Januari-Desember 2022. Pengolahan data sekunder penelitian ini berupa Rencana Kebutuhan Obat, Resep dan Faktur data yang dapat dimasukan dalam bentuk Microsoft Excel. Hasil penelitian evaluasi pengelolaan obat di Rumah Sakit Umum Almansyur Medika Banjarbaru dari Realisasi belanja IFRS didapat Persentase ketepatan obat sebesar 151,46%, Persentase kesesuaian alokasi dana sebesar 95,34%, Persentase kesesuaian obat Kedaluwarsa atau rusak sebesar sebanyak 0%, Peresepan kesesuaian Obat Generik sebesar sesuai 61,80%
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung yang bertanggung jawab kepada pasien dan berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Pengaturan standar pelayanan kefarmasian bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian, menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian serta melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan obat yang tidak rasional dalam rangka keselamatan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran Penerapan Standar Pelayanan Farmasi Klinik di Puskesmas Kecamatan Banjarmasin Utara berdasarkan Permenkes No 74 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas, khususnya pada pelayanan farmasi klinik dan sarana prasarana, sebab Pelayanan farmasi klinik merupakan hal yang terpenting demi kesehatan pasien dan sarana prasarana yang menunjang kegiatan pelayanan. dengan terlaksananya pelayanan yang baik maka kesehatan pasien akan lebih terjamin. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimenta/observasional. Pengambilan data dilakukan secara prospektif. Data akan ditampilkan secara deskriptif, yaitu untuk menggambarkan pelayanan farmasi klinik di puskesmas Kecamatan Banjarmasin Utara. Hasil Penelitian menunjukan bahwa pada Pelayanan Farmasi Klinik di 5 Puskesmas Wilayah Kecamatan Banjarmasin Utara adalah 78%, Sarana dan Prasarana kelengkapan yang dimiliki di 5 Puskesmas wilayah Kecamatan Banjarmasin Utara adalah 74 %. Sedangkan nilai rata-ratanya sebesar 77 % yang menunjukkan bahwa secara keseluruhan kegiatan Pelayanan Farmasi Klinik pada kriteria persentase menurut Arikunto (2013) telah sesuai standar dengan kategori baik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penggunaan obat yang tidak rasional merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama karena berpotensi menimbulkan efek yang berbahaya. Dalam rangka meningkatkan penggunaan obat yang rasional WHO mencoba untuk meningkatkan praktik penggunaan obat yang rasional dengan mengembangkan indicator penggunaan obat yang salah satunya yaiutu indicator peresepan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana kesesuaian pola peresepan pada pasien menggunakan WHO prescribing indicators di Puskesmas Terminal Banjarmasin. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan data yang digunakan data retrospektif yang diambil resep pada tahun 2022 dan data akan disajikan secara deskriptif. Data yang digunakan yaitu data dari resep pasien pada periode Januari-Desember tahun 2022 di Puskesmas Terminal Banjarmasin. Analisis data dilakukan dengan cara menghitung data dalam bentuk persentase pada lembar observasi yang kemudian di sesuaikan dengan indicator WHO. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa peresepan obat di Puskesmas terminal Banjarmasin masih belum sesuai dengan standar WHO karena terdapat parameter yang belum sesuai. Parameter yang tidak sesuai adalah rata-rata item obat tiap lembar resep (2,5), persentase peresepan dengan nama generik (84,80%) dan persentase obat yang diresepkan sesuai dengan formulariun puskesmas (86,93%). Sedangkan untuk persentase peresepan obat dengan antibiotic (15,05%), persentase peresepan obat dengan sediaan injeksi (0%) sudah sesuai dengan standar WHO.