ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyimpanan high alert yang tepat merupakan salah satu faktor penting dalam menjamin keselamatan pasien karena dapat menyebabkan kejadian yang tidak diinginkan jika dalam penyerahan ke pasien terjadi kesalahan. Kesesuaian penyimpanan high alert di puskesmas gadang hanyar Banjarmasin berdasarkan Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Tahun 2019 diperlukan untuk meminimalisir kesalahan dalam penyerahan untuk menjamin keselamatan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase kesesuaian penyimpanan high alert sebagai bahan evaluasi penyimpanan di Puskesmas Gadang Hanyar Banjarmasin. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Jenis data pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Penelitian ini dilakukan pada periode bulan Februari–April 2023 di Puskesmas Gadang Hanyar Banjarmasin. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik accidental sampling. Alat penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah lembar observasi. Jumlah keseluruhan obat high alert adalah (n=28) sampel, terdiri atas obat risiko tinggi (n=12); risiko tinggi yang termasuk LASA (n=6); LASA (n=7); dan elektrolit konsentrat tinggi (n=3) sampel. Analisis data menggunakan Microsoft Excel, berdasarkan kategori. Hasil penelitian kesesuaian penyimpanan berdasarkan Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Tahun 2019 sebesar 79% (20). Sedangkan kesesuaian berdasarkan kategori, obat risiko tinggi sebesar 50% (6), risiko tinggi yang termasuk LASA 67% (4), LASA (Look Alike Sound Alike) sebesar 100% (7), dan elektrolit konsentrat tinggi sebesar 100 % (4). Kesimpulan dari penelitian ini adalah presentase penyimpanan kesesuaian obat high alert secara keseluruhan di Puskesmas gadang Hanyar Banjarmasin sebesar 79% berdasarkan Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Tahun 2019.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
IFRS Rumah sakit bertugas dalam pengelolaan obat yaitu tahap perencanaan, pengadaan, distribusi dan penggunaan. Pengelolaan obat merupakan salah satu segi manajemen rumah sakit yang sangat penting dalam pelayanan kesehatan secara keseluruhan dan direncanakan dengan baik. Observasi pendahuluan menunjukkan adanya permasalahan masih banyak terdapat penulisan resep obat generik yang tidak sesuai dengan SOP rumah sakit. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan evaluasi pengelolaan obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Almasnyur Medika Banjarbaru Tahun 2022. Jenis Penelitian ini non-eksperimental dengan pendekatan secara cross sectional menggunakan lembar Observasi. Penelitian ini dilakukan di IFRS RSU Almansyur Medika Banjarbaru dan dilaksanakan pada bulan Februari – Mei 2023. Populasi dan sampel yaitu Rencana Kebutuhan Obat, Resep, Faktur pada periode Januari-Desember 2022. Pengolahan data sekunder penelitian ini berupa Rencana Kebutuhan Obat, Resep dan Faktur data yang dapat dimasukan dalam bentuk Microsoft Excel. Hasil penelitian evaluasi pengelolaan obat di Rumah Sakit Umum Almansyur Medika Banjarbaru dari Realisasi belanja IFRS didapat Persentase ketepatan obat sebesar 151,46%, Persentase kesesuaian alokasi dana sebesar 95,34%, Persentase kesesuaian obat Kedaluwarsa atau rusak sebesar sebanyak 0%, Peresepan kesesuaian Obat Generik sebesar sesuai 61,80%
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kesesuaian peresepan dengan Formularium Puskesmas merupakan kesesuaian dalam penulisan resep oleh dokter dengan Formularium Puskesmas, serta perlu adanya kesesuaian dengan Formularium Puskesmas untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan efesiensi biaya pengobatan dalam penggunaan obat berkelanjutan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian resep dan item obat dengan Formularium Puskesmas Terminal berdasarkan lembar resep dan item obat tahun 2022 di Puskesmas Terminal Kota Banjarmasin. Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian non eksperimental yang bersifat deskritif dengan data yang dikumpulkan secara retrospektif. Periode analisis selama 1 tahun, pengambilan data menggunakan metode proportional random sampling yaitu dengan cara dilakukan pengambilan acak periode JanuariDesember 2022 pada lembar resep dengan jumlah sampel sebanyak 388 lembar resep. Data disajikan dalam bentuk tabel dan dideskripsikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesesuaian penulisan resep dengan Formularium Puskesmas Terminal berdasarkan lembar resep 61,86%, sedangkan berdasarkan item obat 85,59%. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa resep dan item obat masih terdapat ketidaksesuaian dengan Formularium Puskesmas Terminal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyimpanan merupakan kegiatan terhadap sediaan farmasi agar sediaan yang disimpan aman, memiliki mutu tetap terjamin dan terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia. Faktor yang mendukung penjaminan mutu obat yaitu penyimpanan obat yang tepat dan sesuai standar, kegiatan penyimpanan ada tiga faktor yaitu pengaturan ruangan, penyusunan obat, serta pengamatan mutu obat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah penyimpanan obat di Puskesmas sudah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur penyimpanan di Puskesmas Alalak Tengah dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu non eksperimental dengan bersifat cross-sectional dengan metode prospektif, data dikumpulkan langsung dari ruang penyimpanan obat di Puskesmas Alalak Tengah Banjarmasin. Waktu penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2023. Sampel dari penelitian ini adalah sama dengan populasi yaitu penyimpanan obat dan bahan medis habis pakai di Puskesmas Alalak Tengah Banjarmasin, dengan menggunakan metode sampling jenuh. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan wawancara. Pengolahan data dianalisis menggunakan Microsoft excel, dicek dengan jumlah kesesuaian indikator yang memenuhi standar, dihitung dengan rumus persentase (%) kesesuaian. Hasil penelitian kesesuaian penyimpanan obat dan bahan medis habis pakai berdasarkan SOP di Puskemas Alalak Tengah dengan 8 indikator yaitu 75% sesuai dan 25% tidak sesuai. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 74 Tahun 2016 dengan 20 indikator yaitu 95% sesuai dan 5% tidak sesuai.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Waktu tunggu adalah waktu yang digunakan pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan mulai tempat pendaftaran sampai masuk ke ruang pemeriksaan dokter. Waktu tunggu pasien merupakan salah satu komponen yang potensial menyebabkan ketidakpuasan. Waktu tunggu pelayanan resep dibagi menjadi dua yaitu waktu tunggu pelayanan resep obat non racikan dan waktu tunggu pelayanan resep obat racikan. Tujuan tinjauan literature ini adalah untuk mengetahui gambaran kesesuaian waktu tunggu pelayanan resep di Rumah Sakit berdasarkan Kepmenkes RI No. 129 Tahun 2008 Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode pendekatan tinjauan literature. Proses pencarian literature ini dilakukan melalui website google scholar. Dan didapatkan sebanyak 6 artikel. Analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan atau melihat gambaran keseusian waktu tunggu pelayanan resep di rumah sakit. Hasil studi literature yang berhubungan dengan gambaran kesesuaian waktu tunggu pelayanan resep di rumah sakit didapatkan rata rata hasil waktu tunggu resep yang sesuai dengan Standar Pelayanan minimal untuk obat Non Racikan adalah 16,7 menit dan untuk obat Racikan adalah 33,07 menit.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan memberikan pelayanan pengobatan. Penyimpanan merupakan salah satu kegiatan dari pengelolaan obat yang bertujuan agar mutu sediaan dipertahankan sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Kesesuaian usaha untuk melakukan yang sesuai dengan standar atau ketetapan yang berlaku berdasarka peraturan yang berlaku. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian penyimpanan obat berdasarkan SOP di Gudang Farmasi Puskesmas Paringin tahun 2017. Metode penelitian ini yaitu non eksperimental yang bersifat Cross sectional dengan mengumpukan data Primer. Waktu dan tempat dilaksanakan bulan Januari-Maret 2021 dan tempat penelitian di Gudang Farmasi Puskesmas Paringin.Populasi dan sampel dari penelitian ini adalah seluruh penyimpanan obat. Pengolahan data kesesuaian penyimpanan obat yang sesuai dan tidak sesuai berdasarkan SOP Puskesmas Paringin Tahun 2017. Berdasarkan hasil observasil pada penyimpanan obat dipuskesmas maka didapat kesesuaian 100%
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Obat High Alert adalah obat yang harus diwaspadai karena sering menyebabkan terjadi kesalahan serius (sentinel event) dan obat yang berisiko tinggi menyebabkan Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan (ROTD) (Kemenkes., 2016). Obat-obat ini harus dikelola dengan baik dalam penyimpanan dan pendistribusiannya, karena jika terjadi kesalahan dalam penyimpanan obat dapat mengakibatkan hal yang fatal antara lain bisa mengakibatkan kekeliruan dalam pengambilan obat high alert, dan bisa menimbulkan resiko yang sangat membahayakan bagi keselamatan pasien . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase kesesuaian penyimpanan obat high alert berdasarkan SOP di Rumah Sakit Suaka Insan. Jenis penelitian ini adalah non-eksperimental (observasional) yang bersifat deskriptif. Penelitian ini dilakukan pada satu waktu dan satu kali saja secara (crosssectional). Pengambilan data secara prospektif. Penelitia ini dilakukan selama sebulan pada bulan Januari 2021 di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin. Hasil dari penelitian ini didapatkan Persentase kesesuaian penyimpanan seluruh obat high alert untuk semua kategori berdasarkan SOP Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin didepo rawat inap sebanyak 67,35% sedangkan didepo rawat jalan sebanyak 66,39%. Persentase kesesuaian penyimpanan obat high alert masing-masing kategori berdasarkan dengan SOP Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin untuk kategori Obat Resiko Tinggi didepo rawat inap yang sesuai sebanyak 69,39%, sedangkan untuk kategori Obat Resiko Tinggi didepo rawat jalan yang sesuai sebanyak 51,52%. Untuk kategori Look Alike Sound Alike(LASA) didepo rawat inap yang sesuai sebanyak 64,79%, sedangkan untuk kategori Look Alike Sound Alike (LASA) didepo rawat jalan yang sesuai sebanyak 72,09%, dan untuk kategori Elektrolit Konsentrat Tinggi (hanya ada di instalasi rawat inap) yang sesuai sebanyak 100 %.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kesesuaian resep dengan formularium rumah sakit sangat penting karena dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan efisiensi biaya pengobatan. Sehingga dapat membantu rumah sakit memahami kebutuhan dan prioritas dari perbaikan sistem mutu dan keselamatan penggunaan obat yang berkelanjutan. Tujuan dari Tinjauan Literatur ini adalah untuk mengetahui Kesesuaian Peresepan Obat di Rawat Jalan Rumah Sakit terhadap Formularium Rumah Sakit. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode pendekatan tinjauan literatur dengan sumber data base pencarian artikel didapat dari google scholar dan didapatkan 6 artikel. Analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan atau melihat gambaran kesesuaian peresepan obat dengan formularium rumah sakit. Berdasarkan hasil tinjauan literatur yang diperoleh menyatakan adanya ketidaksesuaian dalam penulisan obat tergantung dari dokter penulis resep. Faktor lain yang menyebabkan resep tidak sesuai dengan formularium adalah nama obat, pasien, dokter dan lain-lain. Sehingga didapatkan kesesuaian peresepan obat pada pasien umum rawat jalan terhadap formularium rumah sakit berkisar dari 60,7% sampai 92,4% dengan rata-rata 82,14%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kesesuaian resep obat dengan Formularium merupakan salah satu indikator penggunaan obat. Penggunaan Formularium obat dapat menjamin standar peresepan yang berkualitas. Menurut WHO kesesuaian resep dengan Formularium harus 100% sesuai. Kesesuaian resep dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dan efisiensi biaya pengobatan serta untuk membantu memperbaiki sistem mutu dan keselamatan penggunaan obat. Peresepan yang belum sesuai dapat mengakibatkan masalah seperti tidak tercapainya tujuan terapi obat, meningkatnya efek samping obat, meningkatnya resistensi dan pemborosan sumber daya kesehatan yang langka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase kesesuaian obat pasien BPJS dengan Formularium di Puskesmas Kelayan Dalam Banjarmasin. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dan wawancara secara prospektif. Sampel yang digunakan adalah resep obat pasien BPJS di Puskesmas Kelayan Dalam Banjarmasin pada tahun 2022 dengan Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Proportional Random Sampling dan Jumlah resep yang diteliti adalah 379 lembar resep yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi serta sampel wawancara yang digunakan adalah Apoteker Penanggung Jawab Puskesmas Kelayan Dalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peresepan obat BPJS di Puskesmas Kelayan Dalam berdasarkan Formularium Nasional didapatkan 196 lembar resep (51,7%) yang sesuai dan 183 lembar resep (48,3%) yang belum sesuai. Berdasarkan Formularium Puskesmas Kelayan Dalam didapatkan hasil 349 lembar resep (92%) yang sesuai dan 30 lembar resep (8%) yang tidak sesuai. Faktor yang mempengaruhi ketidaksesuaian peresepan tersebut karena adanya tiga faktor yaitu kekosongan obat yang terjadi, ketidakpatuhan Dokter dalam menuliskan resep sesuai Formularium dan permintaan obat dari pasien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kesesuaian resep obat dengan Formularium merupakan salah satu indikator penggunaan obat. Penggunaan Formularium obat dapat menjamin standar peresepan yang berkualitas. Menurut WHO kesesuaian resep dengan Formularium harus 100% sesuai. Kesesuaian resep dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dan efisiensi biaya pengobatan serta untuk membantu memperbaiki sistem mutu dan keselamatan penggunaan obat. Peresepan yang belum sesuai dapat mengakibatkan masalah seperti tidak tercapainya tujuan terapi obat, meningkatnya efek samping obat, meningkatnya resistensi dan pemborosan sumber daya kesehatan yang langka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase kesesuaian obat pasien BPJS dengan Formularium di Puskesmas Kelayan Dalam Banjarmasin. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dan wawancara secara prospektif. Sampel yang digunakan adalah resep obat pasien BPJS di Puskesmas Kelayan Dalam Banjarmasin pada tahun 2022 dengan Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Proportional Random Sampling dan Jumlah resep yang diteliti adalah 379 lembar resep yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi serta sampel wawancara yang digunakan adalah Apoteker Penanggung Jawab Puskesmas Kelayan Dalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peresepan obat BPJS di Puskesmas Kelayan Dalam berdasarkan Formularium Nasional didapatkan 196 lembar resep (51,7%) yang sesuai dan 183 lembar resep (48,3%) yang belum sesuai. Berdasarkan Formularium Puskesmas Kelayan Dalam didapatkan hasil 349 lembar resep (92%) yang sesuai dan 30 lembar resep (8%) yang tidak sesuai. Faktor yang mempengaruhi ketidaksesuaian peresepan tersebut karena adanya tiga faktor yaitu kekosongan obat yang terjadi, ketidakpatuhan Dokter dalam menuliskan resep sesuai Formularium dan permintaan obat dari pasien.