ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Selada adalah sayuran yang banyak dikonsumsi segar. Selada cukupbanyak dikonsumsi secara segar karena memiliki kandungan gizi dan zat besi yang tinggi. Zat besi merupakan salah satu nutrisi terpenting bagi tubuh manusiakarena besi diperlukan untuk pembentukan sel darah merah. Kekurangan zat besi atau sering disebut anemia dipengaruhi oleh jenis sumber zat besi yang diseraptubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan membandingkankadar zat besi yang terdapat pada daun selada segar hijau dan ekstrak selada(Lactuca sativa L.). Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental yaitumenetapkan kadar zat besi pada daun selada segar hijau dan ekstrak selada denganmetode permanganometri lalu dibandingkan hasilnya menggunakan analisisstatistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar zat besi yang didapatkanpada sampel selada segar hijau adalah 0,068% ± 0,0017 dan ekstrak selada adalah0,295% ± 0,0465. Berdasarkan hasil uji statistik terdapat perbedaan kadar zat besi pada selada segar hijau dan ekstrak selada berdasarkan nilai Independent sampel ttest dengan nilai signifikansi (p) sebesar 0,001 (p<α).
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman selada memiliki manfaat kesehatan yang melimpah. Tanaman selada mengandung antioksidan seperti betakarotin, falat, lutein, serta indol yang berguna sebagai perlindungan diri untuk mengindari kanker. Tanaman selada juga memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang sangat bermanfaat bagi tubuh manusia. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa yang terkandung dalam ekstrak etanol daun selada hijau (Lactuca sativa L) dengan metode yang berbeda. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah noneksperimental dengan metode deskriptif yaitu untuk melihat perbandingan metabolit sekunder yang terkandung secara kualitatif pada ekstrak etanol daun selada hijau dengan metode pereaksi dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Sampel yang digunakan yaitu tanaman selada yang memenuhi kriteria daun masih segar dan tidak rusak (berlubang atau sobek). Proses ekstraksi sampel menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70% perbandingan (1:10) selama 3×24 jam dan remaserasi 1 kali. Pada penelitan ini pengolahan data yang digunakan yaitu secara kualitatif. Hasil penelitian yang diperoleh dengan metode pereaksi bahwa ekstrak etanol daun selada hijau mengandung senyawa metabolit alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, kuinon dan fenol. Sedangkan dengan metode KLT mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan fenol. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun selada hijau (Lactuca sativa L) mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan fenol.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Demam tifoid atau typhoid fever merupakan penyakit endemik akut ditandai dengan gejala dan tanda yang khas seperti sakit perut, ruam, dan demam. Penyebab tifoid adalah bakteri Salmonella enterica serovar typhi (Salmonella typhi). Daun selada hijau (Lactuca sativa L.) merupakan salah satu tanaman yang memiliki kandungan senyawa sebagai antibakteri dikarenakan mengandung metabolit sekunder diantaranya yaitu fenol, alkaloid, flavonoid, tanin, steroid/triterpenoid dan saponin yang bermanfaat sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun selada hijau terhadap pertumbuhan Salmonella typhi yang dilihat dari diameter zona hambat. Ekstrak yang digunakan pada uji penelitian ini adalah ekstrak daun selada hijau yang dibuat dengan cara metode maserasi menggunakan etanol 70% dengan hasil rendemen 27,30%. Konsentrasi yang digunakan untuk uji aktivitas antibakteri adalah 20%, 40%. 60% dan 80%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun selada hijau memiliki aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan Salmonella typhi yang dibuat dengan berbagai macam konsentrasi. Diameter zona hambat yang terbentuk pada konsentrasi 20%, 40%, 60%, dan 80% berturut-turut 2,20 mm (lemah); 2,32 mm (lemah); 2,57 mm (lemah); 5,1 mm (sedang).