ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat herbal adalah Sirsak (Anonna muricata L.). Sirsak bisa digunakan secara empiris oleh masyarakat untuk pengobatan, daun sirsak bermanfaat sebagai penurun kadar asam urat dan kadar gula dalam darah. Daun sirsak memiliki senyawa fitokimia berupa tanin, flavonoid, alkaloid, saponin dan terpenoid yang dapat berperan sebagai antibakteri, antidiabetes dan mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh hipokolesterolemik, anti karsinogen. Salah satu senyawa daun sirsak adalah tanin bermanfaat sebagai adstringen. Penelitian menggunakan metode pendekatan Tinjauan Literatur, dengan menggunakan kata kunci yaitu Daun sirsak (Annona muricata L), Ekstrak, antibakteri, Ecoli dan Zona hambat. yang bersumber dari data base pencarian artikel didapatkan dari Google Scholar Penelusuran artikel dilakukan pada April 2021. Berdasarkan tinjauan literatur dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun sirsak (Annona nuricata L) berpotensi dalam menghambat pertumbuhan bakteri E.coli. Hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa ekstrak daun sirsak dengan menggunakan metode maserasi lebih efektif dalam menghambat bakteri E.coli dengan konsentrasi 80.000 ppm dengan hasil zona hambat sebesar 12,75 mm dengan kategori tergolong kuat
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jerawat (acne vulgaris) disebabkan oleh inflamasi kronik dari unit pilosebasea yang ditandai pembentukan komedo, papul, pustul, nodul yang bisa tumbuh di daerah wajah, punggung, dada, lengan, kaki yang disebabkan oleh bakteri Propionibacterium acnes. Tanaman ketepeng cina memiliki potensi sebagai salah satu obat tradisional untuk mengobati infeksi bakteri seperti sifilis, bronkitis dan infeksi jamur seperti panu, kurap, serta infeksi parasit seperti malaria. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun ketepeng cina (Cassia alata L) terhadap pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes dan mengetahui perbandingan kekuatan daya hambat berdasarkan statistik. Penelitian ini menguji apakah zat antibakteri yang terdapat dalam ekstrak etanol daun ketepeng cina (Cassia alata L) mempunyai pengaruh pertumbuhan terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Penelitian ini merupakan eksperimental dengan menggunakan populasi ekstrak etanol 96% daun ketepeng cina dan sampel pada penelitian ini ekstrak etanol dengan berbagai macam konsetrasi 40%, 60%, 80%,100% dan kontrol negatif (aquadest steril) serta kontrol positif (klindamisin 10mg/ml). Penelitian menggunakan metode cakram dengan membuat konsentrasi 40%, 60%, 80% dan 100%. Hasil rata-rata zona hambat berturut turut adalah 5,07 mm (sedang); 6,31 mm (sedang); 5,9 mm (sedang) dan 9,13 mm (sedang) sedangkan rata-rata diameter zona hambat kontrol positif (klindamisin 10mg/ml) adalah 30,67 mm (Sangat kuat). Data hasil diameter zona hambat dianalisis dengan menggunakan uji SPSS didapatkan hasil dari ekstrak daun ketepeng cina pada seluruh konsentrasi tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna terhadap daya hambat Propionibacterium acnes. Hal ini berarti konsentrasi ekstrak dalam penelitian ini tidak berpengaruh signifikan karena semua konsentrasi memiliki klasifikasi sedang
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bawang putih (Allium sativum L.) adalah kelompok tanaman yang mengandung banyak nutrisi yang berguna untuk tubuh manusia, yang digunakan sebagai bahan pangan seperti bumbu dapur. Allicinefektif dapat membunuh mikroba, seperti kuman-kuman penyebab infeksi (flu dan demam).Tujuan tinjauan literature ini adalah untuk mengetahui gambaran aktivitas antibakteri dari ekstrak bawang putih. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode pendekatan tinjauan literature dengan sumber data base pencarian artikel didapat dari google scholardan didapatkan sebanyak 6 artikel. Analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan atau melihat gambaran aktivitas antibakteri ekstrak bawang putih terhadap berbagai macam bakteri.Berdasarkan hasil tinjauan literatur didapatkan bahwa ekstrak bawang putih memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, Shigella dysenteriae, Aggregatibacter actinomycetemcomitans, Sreptococcus Pyogenes, dan Pseudomonans Aeruginosa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Menurut Kementerian Kesehatan RI infeksi bakteri dapat menimbulkan terganggunya fungsi organ tubuh yang terpapar baik ringan maupun berat tergantung jenis bakteri yang menginfeksi.Tanaman bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L) merr) merupakan salah satu tanaman yang sudah banyak digunakan sebagai obat tradisional, salah satu kegunaan bawang dayak adalah sebagai antibakteri. Dalam bawang dayak terkandung senyawa alkaloid, flavonoid, dan tanin yang berkhasiat sebagai antibakteri. Tujuan dari review artikel ini adalah untuk membahas aktivitas dari ekstrak bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L) Merr) sebagai antibakteri. Penelusuran artikel menggunakan kata kunci di google scholar dan didapatkan 7 artikel hasil penelitian yang memenuhi kriteria untuk dilakukan tinjauan literatur. Artikel-artikel yang digunakan dalam tinjauan litertur ini berupa artikel primer dari artikel nasional dan internasional. Hasil yang diperoleh dari tinjauan literatur menujukan bahwa ekstrak bawang Dayak (Eleutherine palmifolia (L) Merr, ) memiliki potensi antibakteri. Ekstrak bawang dayak memiliki potensi antibakteri tertinggi terhadap Staphylococcus aureus dengan zona hambat 23,441 mm pada konsentrasi 12%. Namun potensi antibakteri yang terendah terdapat pada Shigella sp dengan zona hambat 9 mm dengan konsentrasi 0,05%
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Menurut Permenkes tahun 2017 Infeksi adalah masalah kesehatan serius di banyak Negara seluruh dunia, termasuk Indonesia. Infeksi disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme, seperti bakteri patogen. Saat ini obat sintetis berupa antibiotik dipilih sebagai terapi untuk melawan penyakit akibat bakteri, tetapi Penggunaan yang salah dan tidak sesuai dapat menyebabkan resistensi. Resistensi terhadap antibiotik merupakan permasalahan yang serius, oleh karena itu diperlukan upaya untuk mengembangkan pengobatan tradisional. Pemanfaatan tanaman obat sedang meningkat karena sifatnya yang relatif lebih aman dibandingkan dengan obat-obatan sintetik. Daun ketapang (Terminalia catappa L.). mengandung senyawa kimia seperti flavonoid, alkaloid, tannin, triterpenoid, steroid, resin, saponin, kuinon, dan fenolik yang berguna sebagai antibakteri. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui Potensi Daun Ketapang (Terminalia catappa L.) Sebagai Antibakteri. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu tinjauan literatur. Artikel yang akan ditinjau diskrining berdasarkan judul, abstrak, minimal sinta 6, minimal scopus, tahun terbit artikel minimal 10 tahun terakhir, memiliki metode ekstraksi, memiliki uji aktivitas antibakteri, memiliki konsentrasi ekstrak, dan hasil jelas. Artikel yang didapatkan berjumlah 6 yang akan dilakukan peninjauan. Hasil pada konsentrasi rendah yaitu 5% terhadap bakteri Edwardsiella tarda memiliki nilai zona hambat 10 mm yang termasuk ke dalam kategori kuat. Kesimpulan yang didapatkan pada 6 artikel menyatakan bahwa daun ketapang (Terminalia catappa L.) memiliki potensi sebagai antibakteri.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kulit buah naga merah merupakan limbah dari buah naga merah yang dapat berkhasiat sebagai antibakteri. Adanya aktivitas antibakteri dari kulit buah naga merah terhadap bakteri disebabkan karena adanya kandungan metabolit sekunder dalam kulit buah naga merah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kulit buah naga merah sebagai antibakteri dan mengetahui konsentrasi kulit buah naga merah yang memiliki aktivitas daya hambat yang sangat kuat berdasarkan tinjauan literatur. Penelitian ini dilakukan dengan metode tinjauan literatur. Penelusuran artikel melalui database google scholar, dengan kata kunci “Antibakteri, Hylocereus, Kulit buah naga merah”, dan didapatkan sebanyak 8 artikel. Artikelartikel tersebut kemudian ditelaah hasil uji antibakterinya terhadap bakteri Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus, Staphylococcus aureus ATCC 25923, Staphylococcus epidermidis, Streptococcus pyogenes dan Escherichia coli. Hasil penelitian tinjauan literatur menunjukan kulit buah naga merah memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus, Staphylococcus aureus ATCC 25923, Streptococcus pyogenes dan Escherichia coli,sedangkan pada bakteri Staphylococcus epidermidis tidak memiliki aktivitas antibakteri. Berdasarkan 8 artikel, ekstrak etanol 60% kulit buah naga merah menunjukan aktivitas daya hambat bakteri yang sangat kuat pada artikel 4 dengan konsentrasi yaitu 0,0073%, menghasilkan zona hambat sebesar 50 mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri dapat disembuhkan menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menyebabkan resistensi. Oleh karena itu, masyarakat memilih obat alternatif sebagai pengobatan untuk penyakit infeksi. Salah satu jenis tanaman yang dapat digunakan adalah Tanaman Alpukat (Persea american Mill). Adanya kandungan metabolit sekunder yaitu polifenol, flavonoid, triterpenoid, kuinon, tanin, dan alkaloid memiliki manfaat sebagai antibakteri. Bagian tanaman alpukat yang digunakan untuk mengetahui aktivitas antibakteri pada ekstrak tanaman alpukat adalah biji, daun dan kulit buah. Alasan dilakukan pemilihan bakteri gram positif karena bakteri gram positif adalah bakteri yang sering menyebabkan infeksi. Tujuan dari kajian literatur untuk mengetahui aktivitas antibakteri terhadap ekstrak tanaman alpukat terhadap bakteri gram positif. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur dari berbagai artikel nasional dengan batasan artikel 10 tahun terakhir. Metode ini digunakan untuk menambah pengetahuan serta pemahaman mengenai tanaman alpukat sebagai antibakteri. Kandungan metabolit sekunder yang terdapat pada skrining fitokimia tanaman alpukat adalah flavonoid, tanin, alkaloid, dan saponin. Dari kandungan metabolit sekunder dalam tanaman alpukat maka tanaman alpukat dapat digunakan sebagai penghambat aktivitas bakteri. Tanaman alpukat memiliki antibakteri yang berpotensi berada dikonsentrasi 2% pada bakteri Streptococcus mutans hasil zona hambat 11,51 mm kategori kuat. Zona hambat yang paling besar pada ekstak tanaman alpukat adalah 20,06 mm kategori sangat kuat pada bakteri Staphylococcus aureus dan zona hambat terkecil berada pada zona hambat 7,68 mm terdapat pada bakteri Streptococcus epidermidis. Tanaman alpukat memiliki potensi antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram positif.