ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kulit buah naga merah merupakan limbah dari buah naga merah yang dapat berkhasiat sebagai antibakteri. Adanya aktivitas antibakteri dari kulit buah naga merah terhadap bakteri disebabkan karena adanya kandungan metabolit sekunder dalam kulit buah naga merah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kulit buah naga merah sebagai antibakteri dan mengetahui konsentrasi kulit buah naga merah yang memiliki aktivitas daya hambat yang sangat kuat berdasarkan tinjauan literatur. Penelitian ini dilakukan dengan metode tinjauan literatur. Penelusuran artikel melalui database google scholar, dengan kata kunci “Antibakteri, Hylocereus, Kulit buah naga merah”, dan didapatkan sebanyak 8 artikel. Artikelartikel tersebut kemudian ditelaah hasil uji antibakterinya terhadap bakteri Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus, Staphylococcus aureus ATCC 25923, Staphylococcus epidermidis, Streptococcus pyogenes dan Escherichia coli. Hasil penelitian tinjauan literatur menunjukan kulit buah naga merah memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus, Staphylococcus aureus ATCC 25923, Streptococcus pyogenes dan Escherichia coli,sedangkan pada bakteri Staphylococcus epidermidis tidak memiliki aktivitas antibakteri. Berdasarkan 8 artikel, ekstrak etanol 60% kulit buah naga merah menunjukan aktivitas daya hambat bakteri yang sangat kuat pada artikel 4 dengan konsentrasi yaitu 0,0073%, menghasilkan zona hambat sebesar 50 mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri dapat disembuhkan menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menyebabkan resistensi. Oleh karena itu, masyarakat memilih obat alternatif sebagai pengobatan untuk penyakit infeksi. Salah satu jenis tanaman yang dapat digunakan adalah Tanaman Alpukat (Persea american Mill). Adanya kandungan metabolit sekunder yaitu polifenol, flavonoid, triterpenoid, kuinon, tanin, dan alkaloid memiliki manfaat sebagai antibakteri. Bagian tanaman alpukat yang digunakan untuk mengetahui aktivitas antibakteri pada ekstrak tanaman alpukat adalah biji, daun dan kulit buah. Alasan dilakukan pemilihan bakteri gram positif karena bakteri gram positif adalah bakteri yang sering menyebabkan infeksi. Tujuan dari kajian literatur untuk mengetahui aktivitas antibakteri terhadap ekstrak tanaman alpukat terhadap bakteri gram positif. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur dari berbagai artikel nasional dengan batasan artikel 10 tahun terakhir. Metode ini digunakan untuk menambah pengetahuan serta pemahaman mengenai tanaman alpukat sebagai antibakteri. Kandungan metabolit sekunder yang terdapat pada skrining fitokimia tanaman alpukat adalah flavonoid, tanin, alkaloid, dan saponin. Dari kandungan metabolit sekunder dalam tanaman alpukat maka tanaman alpukat dapat digunakan sebagai penghambat aktivitas bakteri. Tanaman alpukat memiliki antibakteri yang berpotensi berada dikonsentrasi 2% pada bakteri Streptococcus mutans hasil zona hambat 11,51 mm kategori kuat. Zona hambat yang paling besar pada ekstak tanaman alpukat adalah 20,06 mm kategori sangat kuat pada bakteri Staphylococcus aureus dan zona hambat terkecil berada pada zona hambat 7,68 mm terdapat pada bakteri Streptococcus epidermidis. Tanaman alpukat memiliki potensi antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram positif.