ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) merupakan sejenis tanaman perdu yang banyak tumbuh dan dikembangkan di Indonesia. Buah ini banyak dikonsumsi masyarakat karena mudah diperoleh dan harga relatif murah. Jeruk nipis juga dimanfaatkan perasan airnya. Efek air perasan jeruk nipis sebagai antibakteri salah satunya terhadap bakteri Escherichia coli. Escherichia coli adalah bakteri yang sering menyebabkan penyakit infeksi yang umum di masyarakat yaitu diare. Tujuan dari tinjauan literatur ini untuk mengetahui daya hambat perasan air jeruk nipis (Citrus aurantifolia) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dengan melihat nilai konsentrasi rendah tetapi memiliki daya hambat yang besar. Penelusuran artikel di google scholar menggunakan kata kunci yaitu daya hambat, perasan air jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dan Escherichia coli. Terdapat 6 artikel hasil penelitian yang memenuhi kriteria untuk dilakukan tinjauan literatur. Artikel-artikel yang digunakan dalam tinjauan literatur ini berupa artikel primer dari artikel nasional dan internasional. Hasil yang diperoleh pada setiap artikel menunjukan bahwa adanya daya hambat pada pertumbuhan bakteri. Berdasarkan keenam jurnal yang diperoleh, hasil artikel penelitian yang terbaik dalam menghambat pertumbuhan bakteri yaitu artikel penelitian milik Muhsin Ali (2010) yang tergolong kategori antibakteri daya hambat kuat dengan konsentrasi 8% air perasan jeruk nipis menghasilkan zona hambat sebesar 11,6 mm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri dapat disembuhkan menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menyebabkan resistensi. Oleh karena itu, masyarakat memilih obat alternatif sebagai pengobatan untuk penyakit infeksi. Salah satu jenis tanaman yang dapat digunakan adalah Tanaman Alpukat (Persea american Mill). Adanya kandungan metabolit sekunder yaitu polifenol, flavonoid, triterpenoid, kuinon, tanin, dan alkaloid memiliki manfaat sebagai antibakteri. Bagian tanaman alpukat yang digunakan untuk mengetahui aktivitas antibakteri pada ekstrak tanaman alpukat adalah biji, daun dan kulit buah. Alasan dilakukan pemilihan bakteri gram positif karena bakteri gram positif adalah bakteri yang sering menyebabkan infeksi. Tujuan dari kajian literatur untuk mengetahui aktivitas antibakteri terhadap ekstrak tanaman alpukat terhadap bakteri gram positif. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur dari berbagai artikel nasional dengan batasan artikel 10 tahun terakhir. Metode ini digunakan untuk menambah pengetahuan serta pemahaman mengenai tanaman alpukat sebagai antibakteri. Kandungan metabolit sekunder yang terdapat pada skrining fitokimia tanaman alpukat adalah flavonoid, tanin, alkaloid, dan saponin. Dari kandungan metabolit sekunder dalam tanaman alpukat maka tanaman alpukat dapat digunakan sebagai penghambat aktivitas bakteri. Tanaman alpukat memiliki antibakteri yang berpotensi berada dikonsentrasi 2% pada bakteri Streptococcus mutans hasil zona hambat 11,51 mm kategori kuat. Zona hambat yang paling besar pada ekstak tanaman alpukat adalah 20,06 mm kategori sangat kuat pada bakteri Staphylococcus aureus dan zona hambat terkecil berada pada zona hambat 7,68 mm terdapat pada bakteri Streptococcus epidermidis. Tanaman alpukat memiliki potensi antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram positif.