Hasil pencarian
Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.
Pencarian lanjut AND / OR / NOT
KESESUAIAN PERESEPAN OBAT PASIEN BPJS BERDASARKAN FORMULARIUM DI PUSKESMAS KELAYAN DALAM
Kesesuaian resep obat dengan Formularium merupakan salah satu indikator penggunaan obat. Penggunaan Formularium obat dapat menjamin standar peresepan yang berkualitas. Menurut WHO kesesuaian resep dengan Formularium harus 100% sesuai. Kesesuaian resep dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dan efisiensi biaya pengobatan serta untuk membantu memperbaiki sistem mutu dan keselamatan penggunaan obat. Peresepan yang belum sesuai dapat mengakibatkan masalah seperti tidak tercapainya tujuan terapi obat, meningkatnya efek samping obat, meningkatnya resistensi dan pemborosan sumber daya kesehatan yang langka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase kesesuaian obat pasien BPJS dengan Formularium di Puskesmas Kelayan Dalam Banjarmasin. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dan wawancara secara prospektif. Sampel yang digunakan adalah resep obat pasien BPJS di Puskesmas Kelayan Dalam Banjarmasin pada tahun 2022 dengan Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Proportional Random Sampling dan Jumlah resep yang diteliti adalah 379 lembar resep yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi serta sampel wawancara yang digunakan adalah Apoteker Penanggung Jawab Puskesmas Kelayan Dalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peresepan obat BPJS di Puskesmas Kelayan Dalam berdasarkan Formularium Nasional didapatkan 196 lembar resep (51,7%) yang sesuai dan 183 lembar resep (48,3%) yang belum sesuai. Berdasarkan Formularium Puskesmas Kelayan Dalam didapatkan hasil 349 lembar resep (92%) yang sesuai dan 30 lembar resep (8%) yang tidak sesuai. Faktor yang mempengaruhi ketidaksesuaian peresepan tersebut karena adanya tiga faktor yaitu kekosongan obat yang terjadi, ketidakpatuhan Dokter dalam menuliskan resep sesuai Formularium dan permintaan obat dari pasien.
GAMBARAN KUALITAS HIDUP PASIEN PASCA STROKE RAWAT JALAN DI KLINIK MEGA ANUGRAH HULU SUNGAI UTARA
Kualitas hidup merupakan sasaran utama ingin dicapai pada bidang pembangunan kesejahteran kesehatan. Kualitas hidup berkaitan dengan tujuan, harapan, standar dan kepedulian selama hidupnya. Keberhasilan pengobatan diharapkan berpengaruh terhadap kualitas hidup sehingga kesejahteraan dapat tercapai. Tujuan peenelitian ini untuk mengetahui Karakteristik Kualitas Hidup Pasien Pasca Stroke dan Gambaran Kualitas Hidup Pasien Pasca Stroke Rawat Jalan di Klinik Utama Mega Anugerah Hulu Sungai Utara. Penelitian ini bersifat observasional dengan pengumpulan data secara Prospektif. Waktu dan tempat penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai Juli 2023 di Klinik Utama Mega Anugerah Hulu Sungai Utara. Populasi yaitu pasien pasca stroke sebanyak 124 pasien dengan menggunakan teknik Consecutive Sampling didapat Jumlah total sampel sebanyak 78 Pasien dengan Instrumen penelitian menggunakan kuesioner EQ-5D. Pengolahan dan analisis data menggunakan kalkulator online EQ-5D. Hasil kualitas EQ5D pasien pasca stroke dengan karakteristik pasien dengan kualitas hidup baik yaitu perempuan sebanyak 63,41%, pada umur 56-65 tahun sebanyak 65,22%, dengan pendidikan SLTA sebanyak 69,23%, dengan pekerjaan Ibu rumah tangga sebanyak 52,38%, dan dengan status menikah sebanyak 62,16%. Hasil medis yaitu pasien Baru sebanyak 70,73%, penyakit penyerta sebanyak 67,92%, lama sakit < 5 tahun sebanyak 64%, dan Riwayat keluarga sebanyak 76,47%. Berdasarkan hasil kualitas hidup berdasarkan EQ5D pasien pasca stroke didapat hidup baik sebanyak 49(62,82%) dan kualitas hidup buruk sebanyak 29 (37,18%)
Potensi Daun Ketapang (Terminalia catappa L.) Sebagai Antibakteri: Tinjauan Literatur
Menurut Permenkes tahun 2017 Infeksi adalah masalah kesehatan serius di banyak Negara seluruh dunia, termasuk Indonesia. Infeksi disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme, seperti bakteri patogen. Saat ini obat sintetis berupa antibiotik dipilih sebagai terapi untuk melawan penyakit akibat bakteri, tetapi Penggunaan yang salah dan tidak sesuai dapat menyebabkan resistensi. Resistensi terhadap antibiotik merupakan permasalahan yang serius, oleh karena itu diperlukan upaya untuk mengembangkan pengobatan tradisional. Pemanfaatan tanaman obat sedang meningkat karena sifatnya yang relatif lebih aman dibandingkan dengan obat-obatan sintetik. Daun ketapang (Terminalia catappa L.). mengandung senyawa kimia seperti flavonoid, alkaloid, tannin, triterpenoid, steroid, resin, saponin, kuinon, dan fenolik yang berguna sebagai antibakteri. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui Potensi Daun Ketapang (Terminalia catappa L.) Sebagai Antibakteri. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu tinjauan literatur. Artikel yang akan ditinjau diskrining berdasarkan judul, abstrak, minimal sinta 6, minimal scopus, tahun terbit artikel minimal 10 tahun terakhir, memiliki metode ekstraksi, memiliki uji aktivitas antibakteri, memiliki konsentrasi ekstrak, dan hasil jelas. Artikel yang didapatkan berjumlah 6 yang akan dilakukan peninjauan. Hasil pada konsentrasi rendah yaitu 5% terhadap bakteri Edwardsiella tarda memiliki nilai zona hambat 10 mm yang termasuk ke dalam kategori kuat. Kesimpulan yang didapatkan pada 6 artikel menyatakan bahwa daun ketapang (Terminalia catappa L.) memiliki potensi sebagai antibakteri.
TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN DI RUANG FARMASI DI PUSKESMAS SUNGAI CUKA
Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator mutu pelayanan puskesmas, kepuasaan pasien akan terpenuhi bila pelayanan yang diberikan sesuai dengan harapan mereka. Kualitas pelayanan puskesmas yang baik akan mempengaruhi kepuasan pasien dan mengakibatkan pasien kembali datang untuk menggunakan jasa pelayanan tersebut. Akan tetapi kurangnya Tenaga Teknis Kefarmasian di Puskesmas Sungai Cuka membuat pelayanan kefarmasian menjadi kurang optimal sehingga banyak pekerjaan yang tertunda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Tingkat Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Kefarmasian Di Ruang Farmasi Di Puskesmas Sungai Cuka. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional. Rancangan penelitian akan di lakukan secara cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan cara prospektif. Populasi penelitian ini adalah semua pasien yang berkunjung ke Puskesmas Sungai Cuka yang mendapatkan resep obat atau pengambilan obat pada pelayanan kefarmasian. Sampel diambil dengan metode Random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 306 pasien. Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian lembar kuesioner Hasil penelitian menunjukkan bahwa tentang tingkat kepuasan pasien ditinjau dari 5 dimensi yaitu kehandalan, ketanggapan, jaminan, empati dan kenyataan yang menunjukan bahwa presepsi tingkat kepuasan terbesar pada dimensi kehandalan (78,00%), dimensi empati (77,00%), dimensi jaminan (77,00%), dimensi kenyataan (77,00%), dan dimensi ketanggapan (76,00%) dengan presentase nilai rata-rata tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian diruang farmasi di Puskesmas Sungai Cuka secara keseluruhan sebesar 76,00% dengan klasifikasi kepuasan adalah puas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien puas terhadap pelayanan di ruang farmasi di Puskesmas Sungai Cuka
PENETAPAN KADAR FLAVONOID EKSTRAK DAUN RAMANIA (Bouea macrophylla Griffith) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-Visible
Daun Ramania (Bouea macrophylla Griffith) merupakan salah satu tanaman khas Kalimantan yang berwarna hijau. Daun Ramania mempunyai kandungan senyawa metabolik sekunder yaitu flavonoid, yang berpotensi sebagai antioksidan. Pembuatan ekstrak etanol daun ramania dilakukan dengan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar senyawa flavonoid ekstrak etanol daun ramania dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Visible. Jenis penelitian ini menggunakan metode non eksperimental dengan melakukan uji penetapan kadar senyawa flavonoid ekstrak etanol 70% daun ramania. Sampel pada penelitian ini yaitu ekstrak etanol daun ramania. Metode analisis kualitatif menggunakan FeCl3 sebagai pereaksi. Metode analisis kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV-Visible yang mencakup penentuan operating time, panjang gelombang, pembuatan kurva baku dan penetapan kadar flavonoid. Konsentrasi yang digunakan adalah 30 ppm, 40ppm, 50 ppm, 60 ppm dan 70 ppm. Analisis data sampel menggunakan rumus perhitungan regresi linier kurva baku Y= bx+a, kemudian dilakukan perhitungan penetapan kadar. Hasil pada penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun ramania mengandung senyawa flavonoid. Pada pengukuran larutan standar didapatkan persamaan regresi linier yaitu Y= 0,00561x + 0,31862 dengan nilai r sebesar 0,99680. Kadar flavonoid ekstrak etanol daun Ramania (Bouea macrophylla Griffith yang ditunjukkan dengan menggunakan metode spektrofotometri UVVisible adalah 10,491 mg QE/g±0,963056 SD.
PROFIL PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN SECTIO CAESAREA DI RS IBU DAN ANAK MUTIARA BUNDA MARTAPURA
Angka kejadian sectio caesarea berdasarkan data persalinan di Kabupaten Banjar yaitu terjadi peningkatan dari tahun 2019 sebesar 86% dan di tahun 2020 sebesar 93%. Beberapa resiko dari sectio caesarea antara lain infeksi, pendarahan dan komplikasi bedah sekitar 90% meningkatkan penyakit (morbiditas) pasca bedah sesar yang disebabkan oleh Infeksi Luka Operasi. Pemberian antibiotik profilaksis dapat menurukan resiko infeksi bakteri yang masuk ke dalam rahim (endometritis) sebesar 60-70% dan menurukan resiko Infeksi Luka Operasi sebesar 30 – 65%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien sectio caesarea di RSIA Mutiara Bunda Martapura. Metode penelitian ini merupakan penelitian observasional non eksperimental dan pengambilan data secara retrospektif penelitian dilakukan pada bulan Februari – Maret 2023 data yang digunakan periode Januari – Desember 2022 menggunakan teknik Proportional random sampling dengan jumlah sampel yaitu 305 data pasien sectio caesarea. Pengumpulan data di dapatkan dari rekam medik dan resep kemudian dimasukkan kedalam lembar observasi setelah itu data dianalisis menggunakan bantuan microsoft excel lalu dibuat tabel untuk menggambarkan persentase berdasarkan parameter. Hasil penelitian menunjukan bahwa profil penggunaan antibotik profilaksis pada pasien sectio caesarea 100% Golongan Sefalosporin generasi 3 dengan sediaan injeksi tunggal yang paling banyak yaitu Ceftriaxon 234 (76,72%) resep dengan dosis 1 – 2 gram dan untuk sediaan oral yaitu Cefixim 305 (100%) resep dengan dosis 100 mg. Rute pemberian antibiotik profilaksis yaitu 100% secara intravena dan dilanjutkan dengan penggunaan secara oral 100%. Interval pemberian dilakukan sebelum tindakan 30 – 60 menit dan sesudah dilakukan tindakan maksimal 24 jam sejak pemberian pertama dengan lama pemberian 2 hari untuk sediaan injeksi dan 5 hari untuk sediaan oral.
GAMBARAN PENGELOLAAN PEYIMPANAN SEDIAAN FARMASI DI GUDANG INSTALASI FARMASI RSIA IBUNDA PELAIHARI
Penyimpanan obat di instalasi farmasi rumah sakit menjadi salah satu jaminan kelayakan obat yang di terima oleh rumah sakit sebelum disalurkan ke pasien. Menurut Permenkes RI nomor 72 tahun 2016 meyatakan bahwa standar pelayanan kefarmasian adalah tolak ukur yang dipergunakan sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan kefarmasian. Agar penyimpanan obat menjadi baik, maka di perlukan indikator atau parameter sebagai standar agar diterapkan untuk menjamin penyimpanan obat itu baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyimpanan sediaan farmasi di Gudang Instalasi Farmasi di RSIA Ibunda berdasarkan standar mutu Peraturan Menteri Kesehatan No. 72 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan di Rumah Sakit. Penelitian ini menggunakan metode observasional kualitatif, dimana intrumen penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data adalah lembar observasional. Berdasarkan hasil perhitungan lembar observasi di RSIA Ibunda dengan standar Permenkes No 72 tahun 2016 yaitu sebesar 92% yang masuk dalam kriteria baik dengan menunjukkan bagian yang sesuai standar yaitu komponen penyimpanan, sistem penyimpanan, metode penyimpanan. Sedangkan sebanyak 8% yang belum sesuai standar adalah bagian persyaratan penyimpanan, dan peralatan penyimpanan. Penyimpanan sediaan farmasi di Gudang Instalasi Farmasi RSIA Ibunda sudah memenuhi standar Permenkes No 72 Tahun 2016 dengan persentase 92% yang masuk dalam kategori baik
PENELITIAN: TINGKAT PENGETAHUAN PENGGUNAAN OBAT BEBAS DAN BEBAS TERBATAS UNTUK SWAMEDIKSI PADA MAHASISWA STIKES ISFI BANJARMASIN
Obat bebas adalah obat yang boleh digunakan tanpa resep dokter. Obat bebas dikenal juga dengan sebutan obat OTC. Obat bebas terbatas adalah obat yang yang dapat dibeli secara bebas tanpa menggunakan resep dokter, namun mempunyai peringatan khusus saat menggunakannya. Swamedikasi atau pengobatan sendiri adalah perilaku untuk mengatasi sakit ringan sebelum mencari pertolongan kepada petugas kesehatan Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui tingkat pegetahuan penggunaan obat bebas dan obat bebas terbatas untuk swamedikasi pada mahasiswa Stikes ISFI Banjarmasin. Penelitian ini besifat non-eksperimental observasional pengambilan data dilakukan secara prosfektif menggunakan lembar kuesioner. Waktu penelitian pada bulan maret 2021 dan tempat di Stikes ISFI Banjarmasin. Populasi yaitu mahasiswa Stikes ISFI Banjarmasin sebanyak 249 mahasiswa. Sampel penelitian sebanyak 154 mahasiswa yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Instrument penelitian adalah Kusioner Tingkat Pengetahuan Obat bebas dan obat bebas terbatas. Hasil tingkat penegtahuan penggunaan obat bebas dan obat bebas terbatas untuk swamedikasi pada mahasiswa Stikes ISFI Banjarmasin, hasil yangdidapat yaitu; Pengetahuan Baik 101(65,58%) pasien; tingkat Cukup 22(14,28%) pasien; dan tingkat Kurang 31(20,12%) pasien. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat penegtahuan penggunaan obat bebas dan obat bebas terbatas untuk swamedikasi pada mahasiswa Stikes ISFI Banjarmasin di Nilai Baik
Gambaran Pengetahuan terkait antibiotik pada Masyarakat di Indonesia : Tinjauan Literatur
Antibiotik merupakan salah satu obat yang seringkali digunakan oleh Masyarakat dalam pengobatan, dan salah satu faktor yang mendukung terjadinya resistensi yaitu kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat terkait antibiotik. Sedangkan berdasarkan studi terdahulu masih banyak yang belum tahu terkait tujuan dari penggunaan antibiotik dan cara penggunaan antibiotik yang tepat. Maka dari itu tujuan dilakukan tinjauan literatur ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan terkait antibiotik pada masyarakat di Indonesia. Jenis penelitian ini adalah berupa tinjauan titeratur dengan desain studi obeservasional retrospektif, dan tinjauan literatur ini menggunakan enam jurnal ilmiah yang telah terakreditasi minimal sinta enam dengan pencarian menggunakan Google schoolar. Jurnal yang diambil untuk dilakukan tinjauan memiliki rentang waktu publikasi minimal 2016. Kesimpulan dari enam artikel yang telah dilakukan tinjauan maka diperoleh bahwa gambaran tingkat pengetahuan terkait antibiotik pada masyarakat di indonesia beragam, yaitu pada artikel keempat dan kelima memiliki presentase terbesar pada kategori pengetahuan baik, selanjutnya pada artikel pertama dan ketiga presentase terbesar pada kategori pengetahuan sedang/cukup, sedangkan pada artikel kedua dan keenam memiliki tingkat pengetahuan terbesar dengan kategori kurang
GAMBARAN BIAYA OBAT ANTIPSIKOTIK PADA SKIZOFRENIA : TINJAUAN LITERATUR
Skizofrenia atau psikosis masih merupakan salah satu gangguan mental yang prevalensinya signifikan di Indonesia. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, tingkat kejadian skizofrenia/psikosis di Indonesia cukup tinggi, dengan mayoritas penderitanya telah menerima pengobatan, meskipun masih menghadapi tantangan seperti ketidakteraturan minum obat dan masalah biaya. Studi menunjukkan bahwa antipsikotik golongan atipikal cenderung memiliki biaya yang lebih tinggi, namun dapat memberikan efek samping yang lebih sedikit atau lebih efektif dalam mengatasi gejala psikotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pembiayaan obat antipsikotik pada skizofrenia. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode pendekatan tinjauan literatur. Proses pencarian literatur ini dilakukan melalui Google Scholar, Research Rabbit, dan PubMed. Didapatkan sebanyak 13 artikel dalam rentang tahun terbit 2013-2023, artikel yang memenuhi batasan penelitian sebanyak 7 artikel yang telah terakreditasi sinta 2, 3, 4 dan Internasional. Pendekatan tinjauan literatur ini mengadopsi desain observasional retrospektif. Hasil analisis terhadap tujuh artikel dalam tinjauan literatur yaitu, empat artikel menunjukkan baik obat tunggal maupun kombinasi Haloperidol dari golongan tipikal sebagai obat antipsikotik dengan biaya obat terendah. Satu artikel menunjukkan Risperidon dari golongan atipikal dan satu artikel menunjukkan Brexpiprazole dari golongan atipikal sebagai obat antipsikotik dengan biaya obat terendah masing-masing. Selain itu, satu artikel menunjukkan bahwa kombinasi obat dari golongan atipikal-atipikal, tanpa menyebutkan nama obatnya, merupakan obat antipsikotik dengan biaya obat terendah.
Hubungan Pengetahuan Terhadap Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi Di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin
EFEKTIVITAS INTERVENSI PENGGUNAAN TEKNOLOGI MOBILE PHONE UNTUK MENINGKATKAN KEPATUHAN PENGOBATAN PASIEN HIPERTENSI: TINJAUAN LITERATUR
Hipertensi merupakan penyebab salah satu morbiditas dan mortalitas terbesar di dunia. Pengobatan pasien hipertensi mengakibatkan pasien menjadi tidak patuh. Pasien secara tidak sengaja lupa minum obat menyebabkan tidak patuh. Perlu suatu metode untuk mencegah ketidakpatuhan yaitu Mobile Phone. Mobile Phone adalah gadget pintar dan multiguna. Tujuan penelitian ini Untuk mengetahui bagaimana efektivitas intervensi penggunaan teknologi Mobile Phone untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien hipertensi. Jenis penelitian ini adalah tinjauan literatur, yaitu artikel ilmiah dengan metode pencarian artikel menggunakan google scholar. Artikel harus memiliki akreditasi Sinta dan rentang waktu publikasi paling minimal 2014. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif. Hasil literatur jurnal enam artikel didapat ada pengaruh perubahan perilaku pasien menjadi lebih baik, membantu terkontrolnya kepatuhan minum obat. Efektivitas intervensi Mobile Phone mampu meningkatkan Kepatuhan minum obat antihipertensi sehingga tujuan terapi hipertensi dapat tercapai.
EVALUASI PENYIMPANAN SEDIAAN VAKSIN DI PUSKESMAS KOTA BANJARMASIN
Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif di wilayah kerjanya.Penyimpanan vaksin membutuhkan suatu perhatian khusus karena vaksin merupakan sediaan biologis yang rentan terhadap perubahan temperatur lingkungan, Di dalam Permenkes Nomor 12 tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi disebutkan bahwa vaksin merupakan produk biologis yang mudah rusak sehingga harus disimpan pada suhu tertentu, yakni pada suhu 2 sampai 8 °C. Puskesmas bertanggung jawab atas penyimpanan vaksin. Penyimpanan vaksin adalah suatu cara untuk mempertahankan kondisi vaksin tidak rusak sehingga vaksin tetap dalam keadaan baik dengan demikian kualitas vaksin tetap terjamin. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui penyimpanan sediaan vaksin disaeluruh Puskesmas Kota Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional. Data yang diambil dilakukan secara prospektif dengan menggunakan lembar checklist. Data hasil penelitian akan ditampilkan secara deskriptif. Penelitian ini dilaksanakan di seluruh Puskesmas Kota Banjarmasin dan dilakukan pada bulan Januari 2024.Populasi pada penelitian ini adalah seluruh Puskesmas Kota Banjarmasin dengan teknik sampling adalah sampel jenuh atau total sampling. Hasil Penelitian ini adalah pengolahan data kesesuaian penyimpanan vaksin di Puskesmas Kota Banjarmasin sudah sesuai Peraturan Menteri Kesehatan No. 12 tahun 2017 yaitu indikator Sumber Daya Manusia (SDM) penyimpanan vaksin sebanyak 75% yang artinya dalam kategori Cukup kemudian indikator Fasilitas Sarana dan Prasarana Penyimpanan Vaksin diperoleh sebanyak 65 % yang artinya masuk dalam kategori Baik dan Pengelolaan Penyimpanan vaksin diperoleh sebesar 81 % yang artinya masuk kategori baik. Kesimpulan dari penelitian ini didapatkan hasil dalam kategori baik hanya terdapat pada indikator Fasilitas penyimpanan vaksin dan Pengelolaan penyimpanan vaksin pada puskesmas.
Aktivitas Antibakteri Tanaman Karamunting: Tinjauan Literatur
PROFIL PENGELOLAAN OBAT DENGAN MENGGUNAKAN APLIKASI APPO BERBASIS WEBSITE DI RSUD SULTAN SURIANSYAH BANJARMASIN
Pengelolaan obat yang efektif dilakukan untuk mencegah terjadinya kekurangan obat (stok out), kelebihan obat (over stock) yang mengakibatkan obat tersebut mencapai expired date. Tujuan dari penelitian ini mengetahui Profil Pengelolaan Obat Dengan Menggunakan Aplikasi APPO Berbasis Website Di RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin, berdasarkan indicator yang diukur seperti, percapaian perencanaan, frekuesi pengadaan obat, persentase obat rusak dan kedaluwarsa, serta persentase stok mati obat di RSUD Sultan Suriansyah. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan deskriptif yaitu observasional noneksperimental. Data yang diambil adalah data retrospektif, kemudian dianalisis secara kuantitatif dan data di sajikan secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai berdasarkan data yang didapat di instalasi farmasi RSUD Sultan Suriansyah didapatkan nilai pencapaian perencanaan dalam satu periode tahun 2022 adalah 97,92% Nilai tersebut belum sesuai dengan nilai standar indikator yang ditetapkan yaitu 100%. Frekuensi pengadaan tiap item obat pada tahun 2022 dari 220 item obat yang diambil secara acak ada 202 item obat yang tergolong rendah dan 18 item obat yang tergolong sedang. Nilai persentase obat kedaluwarsa dan rusak sebesar 0,17% dengan kerugian sebesar Rp. 18.226.043 selama periode 2022. Nilai ini memenuhi nilai standar pada indikator persentase nilai obat kedaluwarsa dan rusak yaitu >1%. Persentase stok mati yaitu obat yang tidak digunakan atau tidak terdapat transaksi selama 3 bulan sebesar 1,45%. Sehingga tidak sesuai dengan standar indikator penelitian yaitu 0%.
TINJAUAN LITERATUR: PENGETAHUAN MASYARAKAT TERHADAP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK TANPA RESEP DI APOTEK
Antibiotik merupakan salah satu obat yang harus digunakan dengan tepat, sesuai dengan Permenkes RI Nomor 949/Menkes/Per/VI/2000 tentang penggolongan obat, antibiotik merupakan obat keras yang hanya bisa diperoleh dengan menggunakan resep dokter. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat mengakibatkan resistensi yang sangat merugikan salah satunya disebabkan dengan penggunakan tanpa resep dokter. Penelitian tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan antibiotik tanpa resep di apotek. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis beberapa literatur artikel penelitian yang dilakukan pada tempat yang berbeda, yang didapat dari pencarian google scholar dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, menggunakan kata kunci pengetahuan, antibiotik tanpa resep, dan apotek didapat 5 artikel literatur. Hasil tinjauan literatur dari 5 artikel ini pasien memiliki tingkat pengetahuan penggunaan antibiotik dengan kategori baik (23%), kategori sedang (32%) dan kategori kurang (45%), sehingga kesimpulan yang diperoleh hasil pengetahuan pasien tentang antibiotik masih kurang.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI KULIT BUAH NAGA MERAH: TINJAUAN LITERATUR
Kulit buah naga merah merupakan limbah dari buah naga merah yang dapat berkhasiat sebagai antibakteri. Adanya aktivitas antibakteri dari kulit buah naga merah terhadap bakteri disebabkan karena adanya kandungan metabolit sekunder dalam kulit buah naga merah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kulit buah naga merah sebagai antibakteri dan mengetahui konsentrasi kulit buah naga merah yang memiliki aktivitas daya hambat yang sangat kuat berdasarkan tinjauan literatur. Penelitian ini dilakukan dengan metode tinjauan literatur. Penelusuran artikel melalui database google scholar, dengan kata kunci “Antibakteri, Hylocereus, Kulit buah naga merah”, dan didapatkan sebanyak 8 artikel. Artikelartikel tersebut kemudian ditelaah hasil uji antibakterinya terhadap bakteri Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus, Staphylococcus aureus ATCC 25923, Staphylococcus epidermidis, Streptococcus pyogenes dan Escherichia coli. Hasil penelitian tinjauan literatur menunjukan kulit buah naga merah memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus, Staphylococcus aureus ATCC 25923, Streptococcus pyogenes dan Escherichia coli,sedangkan pada bakteri Staphylococcus epidermidis tidak memiliki aktivitas antibakteri. Berdasarkan 8 artikel, ekstrak etanol 60% kulit buah naga merah menunjukan aktivitas daya hambat bakteri yang sangat kuat pada artikel 4 dengan konsentrasi yaitu 0,0073%, menghasilkan zona hambat sebesar 50 mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK TANAMAN ALPUKAT (Persea americana Mill.) TERHADAP BAKTERI GRAM POSITIF : TINJAUAN LITERATUR
Pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri dapat disembuhkan menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menyebabkan resistensi. Oleh karena itu, masyarakat memilih obat alternatif sebagai pengobatan untuk penyakit infeksi. Salah satu jenis tanaman yang dapat digunakan adalah Tanaman Alpukat (Persea american Mill). Adanya kandungan metabolit sekunder yaitu polifenol, flavonoid, triterpenoid, kuinon, tanin, dan alkaloid memiliki manfaat sebagai antibakteri. Bagian tanaman alpukat yang digunakan untuk mengetahui aktivitas antibakteri pada ekstrak tanaman alpukat adalah biji, daun dan kulit buah. Alasan dilakukan pemilihan bakteri gram positif karena bakteri gram positif adalah bakteri yang sering menyebabkan infeksi. Tujuan dari kajian literatur untuk mengetahui aktivitas antibakteri terhadap ekstrak tanaman alpukat terhadap bakteri gram positif. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur dari berbagai artikel nasional dengan batasan artikel 10 tahun terakhir. Metode ini digunakan untuk menambah pengetahuan serta pemahaman mengenai tanaman alpukat sebagai antibakteri. Kandungan metabolit sekunder yang terdapat pada skrining fitokimia tanaman alpukat adalah flavonoid, tanin, alkaloid, dan saponin. Dari kandungan metabolit sekunder dalam tanaman alpukat maka tanaman alpukat dapat digunakan sebagai penghambat aktivitas bakteri. Tanaman alpukat memiliki antibakteri yang berpotensi berada dikonsentrasi 2% pada bakteri Streptococcus mutans hasil zona hambat 11,51 mm kategori kuat. Zona hambat yang paling besar pada ekstak tanaman alpukat adalah 20,06 mm kategori sangat kuat pada bakteri Staphylococcus aureus dan zona hambat terkecil berada pada zona hambat 7,68 mm terdapat pada bakteri Streptococcus epidermidis. Tanaman alpukat memiliki potensi antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram positif.