ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kepuasan pasien merupakan salah satu tolak ukur yang digunakan untuk mengukur keberhasilan layanan kefamasian. Pasien yang puas terhadap pelayanan yang diberikan oleh pihak kefarmasian menunjukkan bahwa pelayanan yang diberikan tersebut sesuai dengan yang diharapkan pasien atau babkan lebih baik. Kuesioner kepuasan adalah kuesioner untuk mengukur kepuasan pasien rawat jalan terhadap 5 dimensi yaitu kehandalan (reliability). ketanggapan (responsiveness), jaminan (assurance) dan empati (empathy) Berwujud (Tangibles), Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan resep di Depo Obat Rawat Jalan RSUD Sultan Suriansyah Kota Banjarmasin. Jenis penelitian ini merupakan non-ekperimental dengan pendekatan Cross sectional salah satu pendekatan yang dipergunakan untuk melakukan penelitian terhadap beberapa kelompok. Waktu dan tempat dilakukan pada bulan April – Mei 2023 di Depo Obat Rawat Jalan RSUD Sultan Suriansyah Kota Banjarmasin. Populasi dan sampel yaitu jumla sampel 400 responden populasi pasien yaitu yang menebus obat di Depo Obat Rawat Jalan. Pengelolahan data menggunakan Kuesioner yang input ke dalam Microsoft Excel. Hasil kepuasan dengan 400 sampel pasien rawat jalan. Hasil pelayanan kefarmasian di depo Rawat Jalan Rumah Sakit Sultan Suriansyah Kota Banjarmasin menunjukan kategori puas dengan didominasi tingkat Puas sebanyak 284 responden (71%) dan sangat puas sebanyak 116 responden (29%). Tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan resep di Depo Obat Rawat Jalan Rsud Sultan Suriansyah Kota Banjarmasin secara umum (78%) dengan kategori Puas
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Waktu tunggu adalah waktu yang digunakan pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan mulai tempat pendaftaran sampai masuk ke ruang pemeriksaan dokter. Waktu tunggu pasien merupakan salah satu komponen yang potensial menyebabkan ketidakpuasan. Waktu tunggu pelayanan resep dibagi menjadi dua yaitu waktu tunggu pelayanan resep obat non racikan dan waktu tunggu pelayanan resep obat racikan. Tujuan tinjauan literature ini adalah untuk mengetahui gambaran kesesuaian waktu tunggu pelayanan resep di Rumah Sakit berdasarkan Kepmenkes RI No. 129 Tahun 2008 Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode pendekatan tinjauan literature. Proses pencarian literature ini dilakukan melalui website google scholar. Dan didapatkan sebanyak 6 artikel. Analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan atau melihat gambaran keseusian waktu tunggu pelayanan resep di rumah sakit. Hasil studi literature yang berhubungan dengan gambaran kesesuaian waktu tunggu pelayanan resep di rumah sakit didapatkan rata rata hasil waktu tunggu resep yang sesuai dengan Standar Pelayanan minimal untuk obat Non Racikan adalah 16,7 menit dan untuk obat Racikan adalah 33,07 menit.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes melitus (DM) tipe II merupakan penyakit kelainan metabolik dengan karakteristik hiperglikemia kronis serta kelainan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Prevalensi diabetes melitus di Kalimantan Selatan pada tahun 2013 sebesar 1,4%. Ketidakpatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat anti diabetika oral,Tujuan dari tinjauan literatur ini adalah untuk mengetahui Tingkat kepatuhan minum obat pada pasien diabetes mellitus tipe II di rumah sakit. Penelitian menggunakan metode pendekatan Tinjauan Literatur dengan menggunakan 6 artikel, dengan menggunakan kata kunci yaitu Kepatuhan Minum obat diab , kuesioner MMAS yang sumber dari data base pencarian artikel didapatkan dari google scholar. Penelusuran artikel dilakukan pada Maret 2021. Hasil gambaran Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien diabetes melitus tipe II di rumah sakit maka dapat disimpulkan berdasarkan persentase tingkat kepatuhan tinggi sebesar 23,9% atau 96 responden, tingkat kepatuhan sedang 31,4% atau 126 responden, dan tingkat kepatuhan rendah sebesar 44,6% atau 179 responden
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Salmonella thypi. Terapi utama yang diberikan pada penderita demam tifoid adalah antibiotik. Pola penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan tepat nama antibiotik atau jenis antibiotik dan bentuk sediaan antibiotik dapat menyebabkan terjadinya kegagalan terapi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Pola penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid di Rumah Sakit yang dilihat dari banyaknya nama antibiotik yang digunakan dan bentuk sediaan antibiotik yang digunakan. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode pendekatan Tinjauan Literatur dengan sumber data base pencarian artikel didapat dari google scholar. Analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan7 artikel untuk melihat pola penggunaan antibiotik. Kata kunci yang digunakan adalah Pola Penggunaan, Antibiotik, Demam Tifoid, Rumah Sakit dan Rawat Inap. Kriteria inklusi pada artikel jurnal yang digunakan adalah artikel full teks, artikel memuat nama antibiotik dan bentuk sediaan, artikel membahas tentang kriteria pola penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid di rumah sakit rawat inap, artikel yang diterbitkan pada tahun 2010-2020, dan artikel tidak memuat penulis yang sama. Hasil penelitian menunjukan 3 artikel dengan nama antibiotik dengan persentasi tertinggi adalah Ceftriaxone, 2 artikel adalah Cefotaxime, satu artikel adalah Levofloxacin dan Ceftizoxime. Bentuk sediaan yang paling banyak digunakan dari ketujuh artikel adalah bentuk sediaan ampul yang diberikan secara IV (Intravena) dikarenakan pasien rawat inap.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Obat High Alert adalah obat yang harus diwaspadai karena sering menyebabkan terjadi kesalahan serius (sentinel event) dan obat yang berisiko tinggi menyebabkan Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan (ROTD) (Kemenkes., 2016). Obat-obat ini harus dikelola dengan baik dalam penyimpanan dan pendistribusiannya, karena jika terjadi kesalahan dalam penyimpanan obat dapat mengakibatkan hal yang fatal antara lain bisa mengakibatkan kekeliruan dalam pengambilan obat high alert, dan bisa menimbulkan resiko yang sangat membahayakan bagi keselamatan pasien . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase kesesuaian penyimpanan obat high alert berdasarkan SOP di Rumah Sakit Suaka Insan. Jenis penelitian ini adalah non-eksperimental (observasional) yang bersifat deskriptif. Penelitian ini dilakukan pada satu waktu dan satu kali saja secara (crosssectional). Pengambilan data secara prospektif. Penelitia ini dilakukan selama sebulan pada bulan Januari 2021 di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin. Hasil dari penelitian ini didapatkan Persentase kesesuaian penyimpanan seluruh obat high alert untuk semua kategori berdasarkan SOP Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin didepo rawat inap sebanyak 67,35% sedangkan didepo rawat jalan sebanyak 66,39%. Persentase kesesuaian penyimpanan obat high alert masing-masing kategori berdasarkan dengan SOP Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin untuk kategori Obat Resiko Tinggi didepo rawat inap yang sesuai sebanyak 69,39%, sedangkan untuk kategori Obat Resiko Tinggi didepo rawat jalan yang sesuai sebanyak 51,52%. Untuk kategori Look Alike Sound Alike(LASA) didepo rawat inap yang sesuai sebanyak 64,79%, sedangkan untuk kategori Look Alike Sound Alike (LASA) didepo rawat jalan yang sesuai sebanyak 72,09%, dan untuk kategori Elektrolit Konsentrat Tinggi (hanya ada di instalasi rawat inap) yang sesuai sebanyak 100 %.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kesesuaian resep dengan formularium rumah sakit sangat penting karena dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan efisiensi biaya pengobatan. Sehingga dapat membantu rumah sakit memahami kebutuhan dan prioritas dari perbaikan sistem mutu dan keselamatan penggunaan obat yang berkelanjutan. Tujuan dari Tinjauan Literatur ini adalah untuk mengetahui Kesesuaian Peresepan Obat di Rawat Jalan Rumah Sakit terhadap Formularium Rumah Sakit. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode pendekatan tinjauan literatur dengan sumber data base pencarian artikel didapat dari google scholar dan didapatkan 6 artikel. Analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan atau melihat gambaran kesesuaian peresepan obat dengan formularium rumah sakit. Berdasarkan hasil tinjauan literatur yang diperoleh menyatakan adanya ketidaksesuaian dalam penulisan obat tergantung dari dokter penulis resep. Faktor lain yang menyebabkan resep tidak sesuai dengan formularium adalah nama obat, pasien, dokter dan lain-lain. Sehingga didapatkan kesesuaian peresepan obat pada pasien umum rawat jalan terhadap formularium rumah sakit berkisar dari 60,7% sampai 92,4% dengan rata-rata 82,14%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Angka kejadian sectio caesarea berdasarkan data persalinan di Kabupaten Banjar yaitu terjadi peningkatan dari tahun 2019 sebesar 86% dan di tahun 2020 sebesar 93%. Beberapa resiko dari sectio caesarea antara lain infeksi, pendarahan dan komplikasi bedah sekitar 90% meningkatkan penyakit (morbiditas) pasca bedah sesar yang disebabkan oleh Infeksi Luka Operasi. Pemberian antibiotik profilaksis dapat menurukan resiko infeksi bakteri yang masuk ke dalam rahim (endometritis) sebesar 60-70% dan menurukan resiko Infeksi Luka Operasi sebesar 30 – 65%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien sectio caesarea di RSIA Mutiara Bunda Martapura. Metode penelitian ini merupakan penelitian observasional non eksperimental dan pengambilan data secara retrospektif penelitian dilakukan pada bulan Februari – Maret 2023 data yang digunakan periode Januari – Desember 2022 menggunakan teknik Proportional random sampling dengan jumlah sampel yaitu 305 data pasien sectio caesarea. Pengumpulan data di dapatkan dari rekam medik dan resep kemudian dimasukkan kedalam lembar observasi setelah itu data dianalisis menggunakan bantuan microsoft excel lalu dibuat tabel untuk menggambarkan persentase berdasarkan parameter. Hasil penelitian menunjukan bahwa profil penggunaan antibotik profilaksis pada pasien sectio caesarea 100% Golongan Sefalosporin generasi 3 dengan sediaan injeksi tunggal yang paling banyak yaitu Ceftriaxon 234 (76,72%) resep dengan dosis 1 – 2 gram dan untuk sediaan oral yaitu Cefixim 305 (100%) resep dengan dosis 100 mg. Rute pemberian antibiotik profilaksis yaitu 100% secara intravena dan dilanjutkan dengan penggunaan secara oral 100%. Interval pemberian dilakukan sebelum tindakan 30 – 60 menit dan sesudah dilakukan tindakan maksimal 24 jam sejak pemberian pertama dengan lama pemberian 2 hari untuk sediaan injeksi dan 5 hari untuk sediaan oral.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyimpanan obat di instalasi farmasi rumah sakit menjadi salah satu jaminan kelayakan obat yang di terima oleh rumah sakit sebelum disalurkan ke pasien. Menurut Permenkes RI nomor 72 tahun 2016 meyatakan bahwa standar pelayanan kefarmasian adalah tolak ukur yang dipergunakan sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan kefarmasian. Agar penyimpanan obat menjadi baik, maka di perlukan indikator atau parameter sebagai standar agar diterapkan untuk menjamin penyimpanan obat itu baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyimpanan sediaan farmasi di Gudang Instalasi Farmasi di RSIA Ibunda berdasarkan standar mutu Peraturan Menteri Kesehatan No. 72 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan di Rumah Sakit. Penelitian ini menggunakan metode observasional kualitatif, dimana intrumen penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data adalah lembar observasional. Berdasarkan hasil perhitungan lembar observasi di RSIA Ibunda dengan standar Permenkes No 72 tahun 2016 yaitu sebesar 92% yang masuk dalam kriteria baik dengan menunjukkan bagian yang sesuai standar yaitu komponen penyimpanan, sistem penyimpanan, metode penyimpanan. Sedangkan sebanyak 8% yang belum sesuai standar adalah bagian persyaratan penyimpanan, dan peralatan penyimpanan. Penyimpanan sediaan farmasi di Gudang Instalasi Farmasi RSIA Ibunda sudah memenuhi standar Permenkes No 72 Tahun 2016 dengan persentase 92% yang masuk dalam kategori baik
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Angka kejadian sectio caesarea berdasarkan data persalinan di Kabupaten Banjar yaitu terjadi peningkatan dari tahun 2019 sebesar 86% dan di tahun 2020 sebesar 93%. Beberapa resiko dari sectio caesarea antara lain infeksi, pendarahan dan komplikasi bedah sekitar 90% meningkatkan penyakit (morbiditas) pasca bedah sesar yang disebabkan oleh Infeksi Luka Operasi. Pemberian antibiotik profilaksis dapat menurukan resiko infeksi bakteri yang masuk ke dalam rahim (endometritis) sebesar 60-70% dan menurukan resiko Infeksi Luka Operasi sebesar 30 – 65%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien sectio caesarea di RSIA Mutiara Bunda Martapura. Metode penelitian ini merupakan penelitian observasional non eksperimental dan pengambilan data secara retrospektif penelitian dilakukan pada bulan Februari – Maret 2023 data yang digunakan periode Januari – Desember 2022 menggunakan teknik Proportional random sampling dengan jumlah sampel yaitu 305 data pasien sectio caesarea. Pengumpulan data di dapatkan dari rekam medik dan resep kemudian dimasukkan kedalam lembar observasi setelah itu data dianalisis menggunakan bantuan microsoft excel lalu dibuat tabel untuk menggambarkan persentase berdasarkan parameter. Hasil penelitian menunjukan bahwa profil penggunaan antibotik profilaksis pada pasien sectio caesarea 100% Golongan Sefalosporin generasi 3 dengan sediaan injeksi tunggal yang paling banyak yaitu Ceftriaxon 234 (76,72%) resep dengan dosis 1 – 2 gram dan untuk sediaan oral yaitu Cefixim 305 (100%) resep dengan dosis 100 mg. Rute pemberian antibiotik profilaksis yaitu 100% secara intravena dan dilanjutkan dengan penggunaan secara oral 100%. Interval pemberian dilakukan sebelum tindakan 30 – 60 menit dan sesudah dilakukan tindakan maksimal 24 jam sejak pemberian pertama dengan lama pemberian 2 hari untuk sediaan injeksi dan 5 hari untuk sediaan oral.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyimpanan obat di instalasi farmasi rumah sakit menjadi salah satu jaminan kelayakan obat yang di terima oleh rumah sakit sebelum disalurkan ke pasien. Menurut Permenkes RI nomor 72 tahun 2016 meyatakan bahwa standar pelayanan kefarmasian adalah tolak ukur yang dipergunakan sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan kefarmasian. Agar penyimpanan obat menjadi baik, maka di perlukan indikator atau parameter sebagai standar agar diterapkan untuk menjamin penyimpanan obat itu baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyimpanan sediaan farmasi di Gudang Instalasi Farmasi di RSIA Ibunda berdasarkan standar mutu Peraturan Menteri Kesehatan No. 72 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan di Rumah Sakit. Penelitian ini menggunakan metode observasional kualitatif, dimana intrumen penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data adalah lembar observasional. Berdasarkan hasil perhitungan lembar observasi di RSIA Ibunda dengan standar Permenkes No 72 tahun 2016 yaitu sebesar 92% yang masuk dalam kriteria baik dengan menunjukkan bagian yang sesuai standar yaitu komponen penyimpanan, sistem penyimpanan, metode penyimpanan. Sedangkan sebanyak 8% yang belum sesuai standar adalah bagian persyaratan penyimpanan, dan peralatan penyimpanan. Penyimpanan sediaan farmasi di Gudang Instalasi Farmasi RSIA Ibunda sudah memenuhi standar Permenkes No 72 Tahun 2016 dengan persentase 92% yang masuk dalam kategori baik