ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Coronavirus termasuk virus yang menyerang saluran pernapasan. Faktor virus dengan respon imun menentukan keparahan dari infeksi Covid-19. Prevalensi kasus Covid-19 di dunia pertengahan September 2020 mencapai 29.155.581 dan kematian tercatat 926.544 jiwa dengan tersebar ke 216 negara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana profil pengobatan pasien isolasi Covid-19 rawat inap berdasarkan tingkat keparahan pada tahun 2021 di RSUD H. Badaruddin Kasim. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan cara observasi menggunakan data restrospektif rekam medis pasien Covid-19 pada tahun 2021 yang dilakukan di RSUD H. Badaruddin Kasim dengan menggunakan teknik sampling jenuh. Sampel sejumlah 631 lembar rekam medis. Analisis perhitungan data menggunakan Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukan bahwa profil pengobatan pasien isolasi Covid-19 rawat inap berdasarkan tingkat keparahan pada tahun 2021 sesuai dengan literatur manajemenn klinis tata laksana Covid-19 di Fasyankes. Pada tingkat keparahan tanpa gejala obat D-Vit 400 iu terdapat 6 sampel, ringan infus Paracetamol 1 gr 104 sampel, sedang infus Paracetamol 1 gr 151 sampel, dan berat infus Paracetamol 1 gr 137 sampel. Adapun daftar kategori golongan obat yang digunakan yaitu, mukolitik, antibiotik, antivirus, imunomodulator, kortikosteroid, analgetik-antipiretik, antikoagulan, OAINS, antioksidan, vitamin D dan vitamin C. Golongan obat yang dituliskan berdasarkan tingkat keparahannya yang didapatkan dari hasil observasi peneliti yaitu pada tingkat keparahan tanpa gejala, ringan dan sedang yang banyak dituliskan adalah golongan obat imunomodulator sedangkan pada tingkat keparahan berat golongan obat yang banyak dituliskan adalah golongan obat antibiotik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tingginya kejadian ISPA non pneumonia dan banyak penggunaan antibiotik dalam pengobatan ISPA non pneumonia. Antibiotik banyak diresepkan untuk pengobatan ISPA non pneumonia, meskipun belum diketahui penyebab ISPA non pneumonia adalah karena infeksi yang disebabkan oleh bakteri, sehingga peresepan menjadi tidak rasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil penggunaan antibiotik pada pasien ISPA non pneumonia di Puskesmas Terminal Kota Banjarmasin. Penelitian ini dilakukan menggunakan desain observasional metode cross-sectional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif pada tahun 2022 dengan teknik pengambilan sampel proporsional random sampling, dilakukan secara acak dengan bantuan aplikasi Microsoft Excel. Sumber data adalah lembar resep pasien ISPA non pneumonia yang mendapatkan terapi obat antibiotik. Populasi berjumlah 652 resep, dengan perhitungan slovin didapatkan sampel sebesar 248 lembar resep. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi. Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan Microsoft excel dalam bentuk persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibiotik sefadroxil golongan sefalosporin merupakan antibiotik yang paling banyak diresepkan dengan jumlah 103 sebesar (40,39%), sefadroxil 500 mg dengan frekuensi pemberian dua kali sehari dan lama pemberian lima hari dengan jumlah resep 95 sebesar (37,25%), terapi antibiotik yang diberikan adalah terapi antibiotik tunggal berjumlah 255 sebesar (100%).
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Infeksi luka operasi merupakan problem kesehatan yang serius dan masih sering terlihat di rumah sakit rawat inap dan juga khususnya pada bagian bedah. Selain itu, dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien, baik secara fisik maupun mental, atau bahkan berkepanjangan, termasuk waktu pasien yang hilang. Dari perspektif pengelola rumah sakit, angka infeksi luka operasi yang tinggi merupakan indikator mutu pelayanan medis. Pencegahan infeksi luka operasi dapat dicegah dengan pemberian antibiotik profilaksis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola peresepan antibiotik dan kesesuaian penggunaan antibiotik profilaksis dan antibiotik setelah operasi pada pasien bedah di Rumah Sakit Khusus Bedah Banjarmasin Siaga Tahun 2022 dengan Standar Prosedur Operasional (SPO) Penggunaan Antibiotik Profilaksis. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional. Data penelitian ini disajikan secara deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan menelusuri data rekam medik dan resep pada pasien bedah di Rumah Sakit Khusus Bedah Banjarmasin Siaga. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Khusus Bedah Banjarmasin Siaga dengan mengambil data rekam medik dan resep pada tahun 2022. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan rumus persentase Hasil penelitian menunjukkan pola peresepan antibiotik profilaksis dengan Seftriakson (56,15%), dengan golongan sefalosporin generasi III (76,88%), dan frekuensi pemberian sebanyak satu kali sehari (100%). Pada peresepan antibiotik setelah operasi dengan seftriakson (28,45%), dengan golongan sefalosporin generasi III (45,37%), dan frekuensi pemberian antibiotik terbanyak yaitu dua kali sehari (81,95%). Tingkat kesesuaian penggunaan antibiotik profilaksis dengan Standar Prosedur Operasional (SPO) Penggunaan Antibiotik Profilaksis adalah 77,50% dan setelah operasi adalah 81,525%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Angka kejadian sectio caesarea berdasarkan data persalinan di Kabupaten Banjar yaitu terjadi peningkatan dari tahun 2019 sebesar 86% dan di tahun 2020 sebesar 93%. Beberapa resiko dari sectio caesarea antara lain infeksi, pendarahan dan komplikasi bedah sekitar 90% meningkatkan penyakit (morbiditas) pasca bedah sesar yang disebabkan oleh Infeksi Luka Operasi. Pemberian antibiotik profilaksis dapat menurukan resiko infeksi bakteri yang masuk ke dalam rahim (endometritis) sebesar 60-70% dan menurukan resiko Infeksi Luka Operasi sebesar 30 – 65%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien sectio caesarea di RSIA Mutiara Bunda Martapura. Metode penelitian ini merupakan penelitian observasional non eksperimental dan pengambilan data secara retrospektif penelitian dilakukan pada bulan Februari – Maret 2023 data yang digunakan periode Januari – Desember 2022 menggunakan teknik Proportional random sampling dengan jumlah sampel yaitu 305 data pasien sectio caesarea. Pengumpulan data di dapatkan dari rekam medik dan resep kemudian dimasukkan kedalam lembar observasi setelah itu data dianalisis menggunakan bantuan microsoft excel lalu dibuat tabel untuk menggambarkan persentase berdasarkan parameter. Hasil penelitian menunjukan bahwa profil penggunaan antibotik profilaksis pada pasien sectio caesarea 100% Golongan Sefalosporin generasi 3 dengan sediaan injeksi tunggal yang paling banyak yaitu Ceftriaxon 234 (76,72%) resep dengan dosis 1 – 2 gram dan untuk sediaan oral yaitu Cefixim 305 (100%) resep dengan dosis 100 mg. Rute pemberian antibiotik profilaksis yaitu 100% secara intravena dan dilanjutkan dengan penggunaan secara oral 100%. Interval pemberian dilakukan sebelum tindakan 30 – 60 menit dan sesudah dilakukan tindakan maksimal 24 jam sejak pemberian pertama dengan lama pemberian 2 hari untuk sediaan injeksi dan 5 hari untuk sediaan oral.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes melitus atau disebut juga kencing manis merupakan penyakit yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula dalam darah melebihi batas normal sebagai akibat dari kelainan sekresi insulin. Prevalensi diabetes melitus di Kalimantan Selatan diperkirakan sekitar 38.113 (1,4%) jiwa. Tingginya persentase kasus diabetes melitus di Indonesia perlu dikendalikan dengan meningkatkan kepatuhan pasien dalam menggunakan obat. Rendahnya tingkat kepatuhan pasien dalam pengobatan akan berdampak pada resiko komplikasi, kualitass hidup yang buruk, dan peningkatan resiko penyebab mortalitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kepatuhan pengambilan ulang obat diabetes melitus dengan profil kadar gula darah pasien DM tipe II di Puskesmas Kuripan. Penelitian ini dilakukan secara non eksperimental yang bersifat observasional, dengan pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan resep dan lembar observasi hasil pemeriksaan laboratorium pasien diabetes melitus di Puskesmas Kuripan. Populasi pada penelitian ini adalah semua pasien diabetes melitus tipe 2 yang berobat di Puskesmas Kuripan, Kalimantan Selatan periode bulan Januari-Desember 2022 yang berjumlah 59 orang, dan sampel pada penelitian ini adalah sampel yang memenuhi kriteria yaitu 11 orang. Data yang di dapatkan diolah dalam bentuk Microsof excel, kemudian dianalisis kepatuhan berdasarkan metode Medication Posession Ratio (MPR), untuk profil kadar gula darah dikategorikan berdasarkan terkontrol (
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Infeksi saluran pernapasan akut adalah penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran nafas. Prevalensi ISPA di Indonesia adalah 25,0 %. ISPA merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien di sarana kesehatan. Sebanyak 40- 60 % kunjungan berobat di Puskesmas dan 15- 30 %. Pengobatan untuk ISPA adalah menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotika yang tidak rasional dapat menyebabkan terjadinya resistensi. Tujuan dari review artikel ini adalah untuk mengetahui profil penggunaan antibiotika berdasarkan golongan obat dan nama antibiotik pada pasien ISPA di Puskesmas. Metode tinjauan literatur ini adalah dengan melakukan pencarian jurnal dan artikel pada google scholar dengan menggunakan kata kunci yang ditetapkan. Jurnal atau artikel yang dipilih harus memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi antara lain, terakreditasi sinta, diterbitkan tahun 2010-2021 dan mencantumkan nama dan golongan antibiotik. Jurnal dan artikel yang didapatkan dianalisis dengan melakukan perbandingan terhadap setiap artikel dan jurnal. Pada hasil tinjauan literatur didapatkan dari 6 artikel 4 artikel nasional dan 2 artikel internasional dimana 5 artikel menggunkan antibiotik golongan penicillin (amkosisilin) dan 1 artikel yang menggunakan antibiotik golongan maklorida (eritromycin). Berdasarkan literatur profil penggunaan antibiotika di puskesmas diketahui dapat menjadi sumber referensi yang dapat dikembangkan penelitipeneliti lain, khususnya dalam mengetahui golongan dan nama antibiotik apa saja yang di gunakan untuk penyakit ISPA dan dapat lebih bermanfaat dalam perkembangan ilmu pengetahuan dibidang kesehatan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Angka kejadian sectio caesarea berdasarkan data persalinan di Kabupaten Banjar yaitu terjadi peningkatan dari tahun 2019 sebesar 86% dan di tahun 2020 sebesar 93%. Beberapa resiko dari sectio caesarea antara lain infeksi, pendarahan dan komplikasi bedah sekitar 90% meningkatkan penyakit (morbiditas) pasca bedah sesar yang disebabkan oleh Infeksi Luka Operasi. Pemberian antibiotik profilaksis dapat menurukan resiko infeksi bakteri yang masuk ke dalam rahim (endometritis) sebesar 60-70% dan menurukan resiko Infeksi Luka Operasi sebesar 30 – 65%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien sectio caesarea di RSIA Mutiara Bunda Martapura. Metode penelitian ini merupakan penelitian observasional non eksperimental dan pengambilan data secara retrospektif penelitian dilakukan pada bulan Februari – Maret 2023 data yang digunakan periode Januari – Desember 2022 menggunakan teknik Proportional random sampling dengan jumlah sampel yaitu 305 data pasien sectio caesarea. Pengumpulan data di dapatkan dari rekam medik dan resep kemudian dimasukkan kedalam lembar observasi setelah itu data dianalisis menggunakan bantuan microsoft excel lalu dibuat tabel untuk menggambarkan persentase berdasarkan parameter. Hasil penelitian menunjukan bahwa profil penggunaan antibotik profilaksis pada pasien sectio caesarea 100% Golongan Sefalosporin generasi 3 dengan sediaan injeksi tunggal yang paling banyak yaitu Ceftriaxon 234 (76,72%) resep dengan dosis 1 – 2 gram dan untuk sediaan oral yaitu Cefixim 305 (100%) resep dengan dosis 100 mg. Rute pemberian antibiotik profilaksis yaitu 100% secara intravena dan dilanjutkan dengan penggunaan secara oral 100%. Interval pemberian dilakukan sebelum tindakan 30 – 60 menit dan sesudah dilakukan tindakan maksimal 24 jam sejak pemberian pertama dengan lama pemberian 2 hari untuk sediaan injeksi dan 5 hari untuk sediaan oral.