Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Koleksi Perpustakaan

Koleksi otomatis dari Perpustakaan

310 item publik

Publikasi

Halaman 13 dari 16

PENETAPAN KADAR FLAVONOID EKSTRAK DAUN RAMANIA (Bouea macrophylla Griffith) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-Visible

FEBRIANTI NOOR HIDAYAH
2024 · Book · Open Access

Daun Ramania (Bouea macrophylla Griffith) merupakan salah satu tanaman khas Kalimantan yang berwarna hijau. Daun Ramania mempunyai kandungan senyawa metabolik sekunder yaitu flavonoid, yang berpotensi sebagai antioksidan. Pembuatan ekstrak etanol daun ramania dilakukan dengan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar senyawa flavonoid ekstrak etanol daun ramania dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Visible. Jenis penelitian ini menggunakan metode non eksperimental dengan melakukan uji penetapan kadar senyawa flavonoid ekstrak etanol 70% daun ramania. Sampel pada penelitian ini yaitu ekstrak etanol daun ramania. Metode analisis kualitatif menggunakan FeCl3 sebagai pereaksi. Metode analisis kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV-Visible yang mencakup penentuan operating time, panjang gelombang, pembuatan kurva baku dan penetapan kadar flavonoid. Konsentrasi yang digunakan adalah 30 ppm, 40ppm, 50 ppm, 60 ppm dan 70 ppm. Analisis data sampel menggunakan rumus perhitungan regresi linier kurva baku Y= bx+a, kemudian dilakukan perhitungan penetapan kadar. Hasil pada penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun ramania mengandung senyawa flavonoid. Pada pengukuran larutan standar didapatkan persamaan regresi linier yaitu Y= 0,00561x + 0,31862 dengan nilai r sebesar 0,99680. Kadar flavonoid ekstrak etanol daun Ramania (Bouea macrophylla Griffith yang ditunjukkan dengan menggunakan metode spektrofotometri UVVisible adalah 10,491 mg QE/g±0,963056 SD.

PROFIL PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN SECTIO CAESAREA DI RS IBU DAN ANAK MUTIARA BUNDA MARTAPURA

ADELA NOREGA
2024 · Book · Open Access

Angka kejadian sectio caesarea berdasarkan data persalinan di Kabupaten Banjar yaitu terjadi peningkatan dari tahun 2019 sebesar 86% dan di tahun 2020 sebesar 93%. Beberapa resiko dari sectio caesarea antara lain infeksi, pendarahan dan komplikasi bedah sekitar 90% meningkatkan penyakit (morbiditas) pasca bedah sesar yang disebabkan oleh Infeksi Luka Operasi. Pemberian antibiotik profilaksis dapat menurukan resiko infeksi bakteri yang masuk ke dalam rahim (endometritis) sebesar 60-70% dan menurukan resiko Infeksi Luka Operasi sebesar 30 – 65%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien sectio caesarea di RSIA Mutiara Bunda Martapura. Metode penelitian ini merupakan penelitian observasional non eksperimental dan pengambilan data secara retrospektif penelitian dilakukan pada bulan Februari – Maret 2023 data yang digunakan periode Januari – Desember 2022 menggunakan teknik Proportional random sampling dengan jumlah sampel yaitu 305 data pasien sectio caesarea. Pengumpulan data di dapatkan dari rekam medik dan resep kemudian dimasukkan kedalam lembar observasi setelah itu data dianalisis menggunakan bantuan microsoft excel lalu dibuat tabel untuk menggambarkan persentase berdasarkan parameter. Hasil penelitian menunjukan bahwa profil penggunaan antibotik profilaksis pada pasien sectio caesarea 100% Golongan Sefalosporin generasi 3 dengan sediaan injeksi tunggal yang paling banyak yaitu Ceftriaxon 234 (76,72%) resep dengan dosis 1 – 2 gram dan untuk sediaan oral yaitu Cefixim 305 (100%) resep dengan dosis 100 mg. Rute pemberian antibiotik profilaksis yaitu 100% secara intravena dan dilanjutkan dengan penggunaan secara oral 100%. Interval pemberian dilakukan sebelum tindakan 30 – 60 menit dan sesudah dilakukan tindakan maksimal 24 jam sejak pemberian pertama dengan lama pemberian 2 hari untuk sediaan injeksi dan 5 hari untuk sediaan oral.

FORMULASI MASKER GEL PEEL OFF MINYAK ATSIRI BIJI TEH HIJAU (Camellia sinensis L.)

NORMILA RAHMI
2024 · Book · Open Access

Minyak atsiri biji teh hijau (Camellia sinensis L.) adalah bahan alam yang diketahui mengandung senyawa antioksidan yang mampu mencegah terjadinya masalah pada kulit wajah, dapat dibuat menjadi sediaan masker gel peel off. Masker gel peel off dipilih agar mempermudah penggunaan dan mampu memberikan pelepasan zat aktif yang efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui uji stabilitas sediaan masker gel peel off minyak atsiri biji teh hijau dan menentukan formulasi yang terbaik. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Sediaan masker gel peel off dengan variasi konsentrasi Carbopol 940 F1 (1%), F2 (1,75%) dan F3 (2,25%) dievaluasi uji stabilitas meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat dan waktu kering. Data dianalisis menggunakan SPSS 16.0 yaitu dengan uji normalitas Shapiro-Wilk yang dilanjutkan ke uji One Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri biji teh hijau dapat digunakan sebagai bahan aktif masker gel peel off. Selama penyimpanan hari ke-1, ke-7, ke-14 dan ke-21 semua formulasi memenuhi persyaratan parameter masker gel peel off. Dari ketiga formulasi yang terbaik dan memenuhi syarat untuk sediaan masker gel peel off adalah F1 karena memiliki waktu kering yang lebih cepat dibanding F2 dan F3 dengan jumlah Carbopol 940 yang paling sedikit. Berdasarkan uji One Way ANOVA, ada perbedaan yang signifikan (

UJI KADAR LARUT AIR, KADAR SARI LARUT ETANOL DAN KADAR ABU DARI SIMPLISIA DAN EKSTRAK DAUN SEPAT (Mitragyna speciosa)

NOR FUTRI ISLAMY
2024 · Book · Open Access

Daun sepat (Mitragyna speciosa) banyak dimanfaatkan sebagai obat luka, diabetes, asam urat, hipertensi. Untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap tanaman obat tradisional. Maka perlu dilakukan standarisasi simplisia dan ekstrak daun sepat yang meliputi kadar sari larut air, kadar sari larut etanol dan kadar abu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetetahui hasil uji kadar sari larut air, kadar sari larut etanol dan kadar abu simplisia dan ekstrak daun sepat. Metode pada penelitian ini menggunakan non eksperimental yang bersifat deskriptif analitik yaitu untuk mengetahui berapa kadar sari larut air, sari larut etanol dan kadar abu dari tumbuhan daun sepat. Pembuatan ekstrak daun sepat dilakukan dengan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Kemudian dilakukan penelitian uji parameter spesifik dan non spesifik meliputi kadar sari larut air, kadar sari larut etanol dan kadar abu simplisia dan ekstrak daun sepat. Berdasarkan hasil penelitian parameter spesifik dan non spesifik dari simplisia dan ekstrak daun sepat yang telah dilakukan beberapa uji diantaranya, uji kadar sari larut air, etanol, dan kadar abu. Masing-masing mempunyai nilai yang berbeda serbuk simplisia kadar sari larut air adalah 19,92%, kadar sari larut etanol adalah 19,79%, dan kadar abu adalah 5,27%. Sedangkan hasil dari nilai ekstrak daun sepat kadar sari larut air adalah 19,81%, kadar sari larut etanol adalah 19,41%, dan kadar abu adalah 4,36%.

TINGKAT KEPUASAN PASIEN UMUM TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN DI PUSKESMAS ALALAK TENGAH

NOOR AFIFAH DEWI
2024 · Book · Open Access

Kepuasan pasien menjadi salah satu tolok ukur untuk menilai layanan professional dari mutu pelayanan kefarmasian. Pelayanan dan kepuasaan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, karena dengan adanya kepuasan maka pihak terkait dapat saling mengkoreksi sampai dimana pelayanan yang diberikan apakah bertambah baik atau buruk. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh setiap petugas dalam memberikan pelayanan, dengan kata lain pelayanan yang dapat memuaskan dapat memahami apa yang diminta masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien umum terhadap pelayanan kefarmasian di Puskesmas Alalak Tengah yang meliputi lima dimensi yaitu reliability (kehandalan), responsiveness (ketanggapan), assurance (jaminan), emphaty (empati), tangible (berwujud). Jenis penelitian yang dilakukan observasional dengan metode cross sectional data hasil survey dijabarkan secara deskriptif. Populasi pasien yang datang berobat ke Puskesmas Alalak Tengah pada bulan Februari-April 2022. Jumlah sampel dihitung menggunakan rumus Lameshow dengan minimal sampel 165 responden. Adapun kriteria inklusi adalah responden yang bersedia mengisi kuesioner, pasien yang mendapatkan pelayanan kefarmasian dalam kurun waktu penelitian, dan pasien yang berusi 18-65 tahun. Data yang diambil menggunakan lembar kuesioner di analisis dalam tabel data microsoft excel. Berdasarkan data penelitian yang diperoleh bahwa tingkat kepuasaan pasien dengan kategori puas persentase 93,79%, cukup puas persentase 6,21%, sangat puas, kurang puas dan tidak puas persentase 0%.

33027-NIM:220102086-

MUHAMAD HASAN NURAHMAN
2024 · Book · Open Access

Diabetes adalah penyakit kronis serius yang terjadi karena pankreas tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang mengatur gula darah atau glukosa). Menurut data di Puskesmas Gadang Hanyar penyakit Diabetes Mellitus (DM) Tipe II menempati urutan ke-2 berdasarkan kunjungan kasus tahun 2021. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola peresepan obat antidiabetes di Puskesmas Gadang Hanyar Banjarmasin. Penelitian ini berjenis non eksperimental dengan mengambil data dari resep umum dan JKN pasien diabetes mellitus Tipe II di Puskesmas Gadang Hanyar Banjarmasin pada tahun 2021 secara retrospektif. Pengambilan sampel dengan teknik random sampling. Sampel yang didapat dari penelitian ini sebanyak 264 sampel. Instrumen penelitian berupa lembar observasi. Data diolah dalam Microsoft Excel kemudian disajikan dalam tabel dalam bentuk persentase. Berdasarkan hasil penelitian terhadap pola peresepan obat penyakit Diabetes Mellitus Tipe II di Puskesmas Gadang Hanyar Banjarmasin tahun 2021 maka dapat disimpulkan bahwa kelompok usia terbanyak adalah 56-65 tahun (38,26 %); jenis kelamin penderita Diabetes Mellitus (DM) adalah perempuan sebanyak 165 (62,5 %); terapi Diabetes Mellitus (DM) didominasi resep obat kombinasi (59,09 %); kombinasi terbanyak adalah Metformin 500 mg dan Glimepiride 2 mg (60,90 %); golongan obat paling banyak adalah Biguanid (50 %); nama obat dan potensi yang banyak digunakan adalah Metformin 500 mg (50 %) dan frekuensi pemakaian paling banyak adalah Metformin 500 mg 2x sehari 1 tablet (33,81 %).

HUBUNGAN KARAKTERISTIK PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DENGAN TINGKAT KEPATUHAN MINUM OBAT DI PUSKESMAS S.PARMAN KOTA BANJARMASIN

DHELSY SANIYYA AFIFA
2024 · Book · Open Access

Diabetes Mellitus (DM) merupakan kelompok penyakit metabolik kronis dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Pengobatan penyakit ini dibutuhkan waktu jangka Panjang, sehingga kepatuhan minum obat menjadi faktor yang sangat penting. Namun demikian belum banyak penelitian yang menguji hubungan antara tingkat kepatuhan minum obat pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan karakteristik pasien. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran karakteristik, gambaran kepatuhan minum obat, dan mengetahui apakah ada hubungan antara karteristik dengan tingkat kepatuhan minum obat pasien diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas S. Parman Kota Banjarmasin. Penelitian ini adalah penelitian observasional dalam bentuk cross sectional. Pengambilan sampel dengan teknik consecutive sampling sampai periode penelitian yang telah ditetapkan. Sampel yang didapat dari penelitian ini sebanyak 76 pasien. Pengukuran kepatuhan minum obat menggunakan metode pill count. Data hasil penelitian dianalisis dengan program SPSS versi 16.0, uji Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran karakteristik pasien diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas S. Parman Kota Banjarmasin adalah jenis kelamin yang didominasi oleh perempuan 51 sampel (67,2%), umur didominasi oleh kategori 46-55 tahun 40 sampel (52,6%), tingkat pendidikan didominasi oleh kategori SMA yaitu sebanyak 34 sampel (44,7%), pekerjaan didominasi oleh ibu rumah tangga sebanyak 33 sampel (60,6%), lama menderita pasien didominasi dengan lama derita >5 tahun 29 sampel (39,1%), jumlah obat didominasi dengan 1 jenis obat berjumlah 50 pasien (65,7%), karakteristik penyakit penyerta pasien di dominasi oleh pasien tanpa komorbid 41 sampel (53,9%). Gambaran tingkat kepatuhan minum obat pasien tingkat kepatuhan tinggi sebanyak 54 pasien (71,1%) patuh dan tidak patuh 22 pasien (28,9%). Ditemukan adanya hubungan yang signifikan (p0,05) pada karakteristik pendidikan, pekerjaan, lama menderita, jumlah obat, dan penyakit penyerta dengan tingkat kepatuhan minum obat pasien diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas S. Parman Kota Banjarmasin.

GAMBARAN KEPATUHAN PENGAMBILANN ULANG OBAT DIABETES MELITUS DENGAN PROFIL KADAR GULA DARAH PASIEN DM TIPE II DI PUSKESMAS KURIPAN

SEVY HARTATI
2024 · Book · Open Access

Diabetes melitus atau disebut juga kencing manis merupakan penyakit yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula dalam darah melebihi batas normal sebagai akibat dari kelainan sekresi insulin. Prevalensi diabetes melitus di Kalimantan Selatan diperkirakan sekitar 38.113 (1,4%) jiwa. Tingginya persentase kasus diabetes melitus di Indonesia perlu dikendalikan dengan meningkatkan kepatuhan pasien dalam menggunakan obat. Rendahnya tingkat kepatuhan pasien dalam pengobatan akan berdampak pada resiko komplikasi, kualitass hidup yang buruk, dan peningkatan resiko penyebab mortalitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kepatuhan pengambilan ulang obat diabetes melitus dengan profil kadar gula darah pasien DM tipe II di Puskesmas Kuripan. Penelitian ini dilakukan secara non eksperimental yang bersifat observasional, dengan pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan resep dan lembar observasi hasil pemeriksaan laboratorium pasien diabetes melitus di Puskesmas Kuripan. Populasi pada penelitian ini adalah semua pasien diabetes melitus tipe 2 yang berobat di Puskesmas Kuripan, Kalimantan Selatan periode bulan Januari-Desember 2022 yang berjumlah 59 orang, dan sampel pada penelitian ini adalah sampel yang memenuhi kriteria yaitu 11 orang. Data yang di dapatkan diolah dalam bentuk Microsof excel, kemudian dianalisis kepatuhan berdasarkan metode Medication Posession Ratio (MPR), untuk profil kadar gula darah dikategorikan berdasarkan terkontrol (

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TERHADAP PERILAKU SWAMEDIKASI PENYAKIT MAAG PADA PELAJAR DI SMAN 1 KURIPAN

AS'SYIFA RAHMAH
2024 · Book · Open Access

Swamedikasi merupakan perilaku mengkonsumsi obat sendiri berdasarkan diagnosis terhadap gejala sakit yang terjadi. Maag merupakan salah satu dari banyak penyakit ringan yang bisa ditangani dengan swamedikasi. Meskipun swamedikasi hanya dilakukan untuk mengobati penyakit ringan namun dalam penerapannya pengetahuan mengenai ketepatan pengobatan sesuai ketentuan tersebut terkadang tidak diketahui ataupun tidak didapatkan oleh masyarakat, sehingga swamedikasi menjadi kurang efektif karena tidak dilakukan dengan benar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan perilaku swamedikasi penyakit maag, serta untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap perilaku swamedikasi penyakit maag pada pelajar di SMAN 1 Kuripan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei - Juni 2023 dengan metode pengambilan sampel berupa purposive sampling dan desain penelitian cross sectional. Responden pada penelitian ini merupakan 43 pelajar di SMAN 1 Kuripan yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen pada penelitian ini adalah kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya oleh peneliti. Pengolahan data dengan cara rekapitulasi hasil kuesioner dan dianalisis secara bertahap dengan menggunakan uji korelasi Pearson pada SPSS versi 25 dengan persyaratan p-value < 0,05. Penelitian ini menghasilkan nilai tingkat pengetahuan swamedikasi responden yang tinggi sebesar 34,88%, sedang sebesar 55,81%, dan rendah sebesar 9,31%. Perilaku swamedikasi responden yang didapatkan berupa baik sebesar 44,18%, cukup baik sebesar 53,48%, dan kurang sebesar 2,34%. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan perilaku swamedikasi responden dengan taraf signifikansi 0,001 < 0,05. Koefisien korelasi hubungan tingkat pengetahuan dan perilaku responden sebesar 0,497 dengan koefisien korelasi cukup.

KEPATUHAN MINUM OBAT DAN KEPATUHAN PENGAMBILAN OBAT ULANG PASIEN HIPERTENSI DI APOTEK PANASEA BANJARMASIN

IJATUL YAZIDAH
2024 · Book · Open Access

Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang serius,ditandai dengan adanya peningkatan tekanan darah dengan nilai sistolik ≥ 140 mmHg dan nilai diastolik ≥ 90 mmHg. Seiring berjalannya waktu apabila hipertensi tidak diobati dengan baik maka akan menimbulkan penyakit komplikasi kardiovaskular lainnya. Salah satu faktor penting dalam keberhasilan terapi hipertensi adalah kepatuhan. Kepatuhan minum obat dan kepatuhan pengambilan obat ulang pasien hipertensi merupakan hal penting karena hipertensi merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan tetapi harus selalu dikontrol atau dikendalikan agar tidak terjadi komplikasi yang dapat berujung pada kematian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kepatuhan minum obat dan kepatuhan pengambilan obat ulang pada pasien hipertensi di Apotek Panasea Banjarmasin. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan non-eksperimental yang bersifat observasional. Pengambilan data Kepatuhan minum obat secara prospektif dengan kuesioner MARS-5 periode April-Mei 2022 dan kepatuhan pengambilan obat ulang secara retrospektif dengan persamaan Medication Possession Ratio (MPR) periode Oktober 2021-Maret 2022. Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik total sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi di mana besar sampelnya berjumlah 42. Data hasil penelitian akan ditampilkan secara deskriptif dalam bentuk persentase. Hasil dari kepatuhan minum obat didapat sebesar 43% (18 orang) patuh dan 57% (24 orang) tidak patuh. Hasil dari kepatuhan pengambilan obat ulang didapat sebesar 36% (15 orang) patuh dan 64% (27 orang) tidak patuh.

HUBUNGAN ANTARA KUALITAS HIDUP PASIEN DIABETES MELITUS DENGAN KARAKTERISTIK DEMOGRAFI MENGGUNAKAN INSTRUMEN EQ-5D DI PUSKESMAS S. PARMAN KOTA BANJARMASIN

AKHMAD RISKI
2024 · Book · Open Access

Penyakit Diabetes Melitus (DM) masuk dalam 10 kategori penyakit kronik di Indonesia khususnya Provinsi Kalimantan Selatan prevalensi penyakit DM menduduki peringkat ke 15 sebesar 1.8 %. Penyakit diabetes melitus membutuhkan pengobatan jangka Panjang sehingga efektivitas dan efek samping pengobatan dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Kualitas hidup pasien diabetes melitus dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor demografi yang meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, komplikasi penyakit, jumlah obat yang diterima, dan riwayat DM. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pasien DM serta melihat apakah karakteristik demografi berpengaruh terhadap kualitas hidup. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan desain penelitian cross sectional. Pengumpulan data dilakukan secara prospective. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode consecutive sampling dengan jumlah 75 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data kualitas hidup dilakukan dengan wawancara dan pengisian kuesioner EQ-5D. Data karakteristik demografi diperoleh dengan cara menanyakan langsung kepada sampel serta di validasi dengan melihat langsung data dari Rekam Medik pasien. Data hasil penelitian dikaji menggunakan alat hitung kualitas hidup. Uji korelasi Chi Square digunakan untuk melihat hubungan karakteristik dengan kualitas hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel penelitian yang memiliki kualitas hidup baik sejumlah 42 sampel (56%) dan yang memiliki kualitas hidup buruk sejumlah 33 sampel (44%). Pengukuran Karakteristik sampel menggunakan spss didapatkan berupa jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, jumlah obat yang diterima, komplikasi penyakit, dan riwayat DM keluarga tidak memiliki korelasi yang signifikan dengan kualitas hidup pasien DM. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sampel penelitian didominasi oleh pasien dengan kualitas hidup baik dan karakteristik sampel tidak memiliki korelasi dengan kualitas hidup pasien DM.

PROFIL PENGOBATAN PASIEN ISOLASI COVID-19 RAWAT INAP BERDASARKAN TINGKAT KEPARAHAN PADA TAHUN 2021 DI RSUD H.BADARUDDIN KASIM KABUPATEN TABALONG

YESSI ERITA MARIANIKA
2024 · Book · Open Access

Coronavirus termasuk virus yang menyerang saluran pernapasan. Faktor virus dengan respon imun menentukan keparahan dari infeksi Covid-19. Prevalensi kasus Covid-19 di dunia pertengahan September 2020 mencapai 29.155.581 dan kematian tercatat 926.544 jiwa dengan tersebar ke 216 negara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana profil pengobatan pasien isolasi Covid-19 rawat inap berdasarkan tingkat keparahan pada tahun 2021 di RSUD H. Badaruddin Kasim. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan cara observasi menggunakan data restrospektif rekam medis pasien Covid-19 pada tahun 2021 yang dilakukan di RSUD H. Badaruddin Kasim dengan menggunakan teknik sampling jenuh. Sampel sejumlah 631 lembar rekam medis. Analisis perhitungan data menggunakan Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukan bahwa profil pengobatan pasien isolasi Covid-19 rawat inap berdasarkan tingkat keparahan pada tahun 2021 sesuai dengan literatur manajemenn klinis tata laksana Covid-19 di Fasyankes. Pada tingkat keparahan tanpa gejala obat D-Vit 400 iu terdapat 6 sampel, ringan infus Paracetamol 1 gr 104 sampel, sedang infus Paracetamol 1 gr 151 sampel, dan berat infus Paracetamol 1 gr 137 sampel. Adapun daftar kategori golongan obat yang digunakan yaitu, mukolitik, antibiotik, antivirus, imunomodulator, kortikosteroid, analgetik-antipiretik, antikoagulan, OAINS, antioksidan, vitamin D dan vitamin C. Golongan obat yang dituliskan berdasarkan tingkat keparahannya yang didapatkan dari hasil observasi peneliti yaitu pada tingkat keparahan tanpa gejala, ringan dan sedang yang banyak dituliskan adalah golongan obat imunomodulator sedangkan pada tingkat keparahan berat golongan obat yang banyak dituliskan adalah golongan obat antibiotik.

PENELITIAN: POLA PERESEPAN OBAT ANTIPSIKOTIK PADA PASIEN PENYAKIT SKIZOFRENIA DI APOTEK ADIRA FARMA KANDANGAN TAHUN 2020

RAHMANIAH
2024 · Book · Open Access

Penyakit skizofrenia adalah gangguan jiwa kronis yang ditandai dengan serangkaian gejala, termasuk delusi, halusinasi, ucapan atau perilaku yang kacau, dan kemampuan kognitif yang terganggu. Skizofrenia merupakan gangguan psikis, untuk itu pengobatan yang utama diberikan adalah antipsikotik yang sesuai dengan algoritma secara patuh diindikasikan dapat mengurangi gejala positif atau negatif pasien skizofrenia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pola peresepan obat antipsikotik pada pasien skizofrenia di Apotek Adira Farma Kandangan Tahun 2020. Penelitian ini adalah penelitian non eksperimental dengan mengambil data dari resep pasien hipertensi secara retrospektif. Pengambilan sampel dengan teknik Proportional Random Samplin dan pengambilan sampel minimalnya dapat ditentukan menggunakan Rummus slovin. Sampel yang didapat dari penelitan ini sebanyak 311 lembar resep. Penelitian ini menggunakan lembar observasi kemudian direkap kedalam format Microsoft excel, kemudian didistribusikan menurut kreteria yang terdiri dari nama obat, golongan obat, dosis obat, bentuk sediaan obat dan frekuensi obat. Kemudian dihitung dengan menggunakan rumus persentase. Hasil penelitian ini dengan persentase tertinggi berdasarkan nama obat adalah Stelosi 141 (32,4%), berdasarkan Golongan Antipsikotik Tipikal 262 (60,22%), berdasarkan dosisi Stelosi 5 mg tab sebanyak 141 (32,4%), berdasarkan frekuensi pemakaian dua kali sehari sebanyak 204 (46,90%), dan berdasarkan bentuk sediaan tablet 341 (78,40%).

TINJAUAN LITERATUR: GAMBARAN KESESUAIAN WAKTU TUNGGU PELAYANAN RESEP DI RUMAH SAKIT

ANNISA SALSABILA INDRIANI
2024 · Book · Open Access

Waktu tunggu adalah waktu yang digunakan pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan mulai tempat pendaftaran sampai masuk ke ruang pemeriksaan dokter. Waktu tunggu pasien merupakan salah satu komponen yang potensial menyebabkan ketidakpuasan. Waktu tunggu pelayanan resep dibagi menjadi dua yaitu waktu tunggu pelayanan resep obat non racikan dan waktu tunggu pelayanan resep obat racikan. Tujuan tinjauan literature ini adalah untuk mengetahui gambaran kesesuaian waktu tunggu pelayanan resep di Rumah Sakit berdasarkan Kepmenkes RI No. 129 Tahun 2008 Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode pendekatan tinjauan literature. Proses pencarian literature ini dilakukan melalui website google scholar. Dan didapatkan sebanyak 6 artikel. Analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan atau melihat gambaran keseusian waktu tunggu pelayanan resep di rumah sakit. Hasil studi literature yang berhubungan dengan gambaran kesesuaian waktu tunggu pelayanan resep di rumah sakit didapatkan rata rata hasil waktu tunggu resep yang sesuai dengan Standar Pelayanan minimal untuk obat Non Racikan adalah 16,7 menit dan untuk obat Racikan adalah 33,07 menit.

GAMBARAN TINGKAT KETERSEDIAAN OBAT DI PUSKESMAS 9 NOPEMBER TAHUN 2022

FINI KHAIRUNNISA
2024 · Book · Open Access

Puskesmas mempunyai peran penting pada pengelolaan obat yang bertujuan untuk menjamin ketersediaan obat yang dibutuhkan tersedia setiap waktu, jumlah yang relatif dan terjamin untuk mendukung pelayanan yang bermutu bagi pasien. Terjaminnya ketersediaan obat di pelayanan kesehatan akan menjaga citra pelayanan kesehatan itu sendiri, sehingga pengelolaan serta penyediaan obat secara efektif dan efisien sangat krusial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian item obat yang tersedia dengan Formularium Puskesmas, kesesuaian permintaan dengan penerimaan obat dan tingkat ketersediaan obat di Puskesmas 9 Nopember Tahun 2022. Jenis penelitian ini berupa penelitian non-eksperimental yang digambarkan secara deskriptif. Data yang digunakan bersifat retrospektif dan pengambilan data menggunakan lembar observasi. Penelitian ini dilakukan pada bulan April - Mei di Puskesmas 9 Nopember Banjarmasin. Populasi yang digunakan penelitian ini adalah Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO). Sampel pada penelitian ini adalah item obat yang tersedia di LPLPO Tahun 2022 di Puskesmas 9 Nopember Banjarmasin. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik sampling jenuh dan pengolahan data menggunakan Microsoft Excel. Hasil penelitian didapatkan persentase kesesuaian item obat dengan formularium Puskesmas yaitu 84%. Kesesuaian permintaan dengan penerimaan obat di Puskesmas sebesar 36%. Rata-rata tingkat ketersediaan obat di Puskesmas masuk dalam kategori berlebih dengan kategori kosong sebesar 51%, kategori kurang 0%, kategori aman 3,37%, dan kategori berlebih 45%

FORMULASI DAN UJI EVALUASI MUTU SEDIAAN PASTA GIGI DARI EKSTRAK DAUN DADANGKAK (Hydrolea spinosa)

SILVIA DAMAYANTI
2024 · Book · Open Access

Dadangkak (Hydrolea spinosa) adalah tumbuhan yang tumbuh di Kalimantan Selatan, yang mengandung metabolit sekunder dan memiliki aktivitas antibakteri berupa adanya nilai KHM pada konsentrasi 500 µg/ml terhadap bakteri yang ada di dalam mulut seperti Staphylococcus aureus dan Escherichia coli yang dapat dikembangkan menjadi sediaan farmasi. Salah satu sediaan farmasi yang sering digunakan dalam sehari-hari yaitu sediaan pasta gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sediaan pasta gigi dari ekstrak daun dadangkak (Hydrolea spinosa) dan melihat hasil uji evaluasi mutu fisik sediaan pasta gigi ekstrak dadangkak (Hydrolea spinosa). Jenis penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Ekstrak daun dadangkak (Hydrolea spinosa) diformulasikan dalam dua formula dengan perbedaan konsentrasi Na CMC 3% dan sorbitol 50% pada formula 1, Na CMC 4% dan sorbitol 40% pada Formula 2. Sediaan pasta gigi diuji evaluasi mutunya dengan 6 parameter uji. Hasil data dianalisis menggunakan program SPSS yaitu dengan uji Normalitas dengan dilanjutkan ke uji One Way Anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun dadangkak (Hydrolea spinosa) dapat digunakan sebagai zat aktif sediaan pasta gigi pada kedua formula. Hasil uji evaluasi mutu pasta gigi pada formula 1 dan formula 2 hanya 5 parameter uji yang memenuhi persyaratan, yaitu uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar, dan uji tinggi busa. Parameter uji viskositas formula 1 dan formula 2 tidak memenuhi persyaratan hasilnya tidak terbaca karena konsistensi sediaanya terlalu kental. Pada formula 2 dan kontrol formula 2 uji One Way Anova menunjukkan bahwa konsentrasi Na CMC dan sorbitol tidak memberikan hasil yang berbeda signifikan terhadap tinggi busa pasta.

PERBANDINGAN METODE SKRINING FITOKIMIA PADA EKSTRAK ETANOL DAUN SELADA HIJAU (Lactuca sativa L)

SITI NURHAYATI
2024 · Book · Open Access

Tanaman selada memiliki manfaat kesehatan yang melimpah. Tanaman selada mengandung antioksidan seperti betakarotin, falat, lutein, serta indol yang berguna sebagai perlindungan diri untuk mengindari kanker. Tanaman selada juga memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang sangat bermanfaat bagi tubuh manusia. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa yang terkandung dalam ekstrak etanol daun selada hijau (Lactuca sativa L) dengan metode yang berbeda. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah noneksperimental dengan metode deskriptif yaitu untuk melihat perbandingan metabolit sekunder yang terkandung secara kualitatif pada ekstrak etanol daun selada hijau dengan metode pereaksi dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Sampel yang digunakan yaitu tanaman selada yang memenuhi kriteria daun masih segar dan tidak rusak (berlubang atau sobek). Proses ekstraksi sampel menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70% perbandingan (1:10) selama 3×24 jam dan remaserasi 1 kali. Pada penelitan ini pengolahan data yang digunakan yaitu secara kualitatif. Hasil penelitian yang diperoleh dengan metode pereaksi bahwa ekstrak etanol daun selada hijau mengandung senyawa metabolit alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, kuinon dan fenol. Sedangkan dengan metode KLT mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan fenol. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun selada hijau (Lactuca sativa L) mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan fenol.

POLA PERESEPAN OBAT DIABETES MELITUSPASIEN BPJS DI KLINIK X KOTA BANJARMASIN TAHUN 2022

SORAYA SAFITRI
2024 · Book · Open Access

Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit kronis serius yang terjadi karena pankreas tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang mengatur gula darah atau glukosa), atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin yang dihasilkan. DM adalah masalah kesehatan masyarakat yang penting, menjadi salah satu dari empat penyakit tidak menular yang menjadi prioritas target tindak lanjut oleh para pemimpin dunia. Jumlah kasus dan prevalensi DM terus meningkat selama beberapa dekade terakhir. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pola peresepan obat DM pasien BPJS di klinik X kota Banjarmasin yang meliputi nama obat, potensi obat, golongan obat dan frekuensi obat. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah data resep dan rekam medik pasien DM dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 383 sampel. Data diambil secara retrospektif dengan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik proportional random sampling. Data ditampilkan dalam bentuk tabel persentase. Hasil penelitian obat yang paling banyak diresepkan adalah Metformin dengan persentase 43,73%. Potensi terbanyak adalah Metformin 500 mg dengan persentase 40,3%. Golongan obat yang paling banyak diresepkan adalah Biguanide dengan persentase 43,51%. Dan frekuensi terbanyak yaitu Metformin dengan pemakaian 2x sehari 1 tablet 25,46%.

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN SELADA HIJAU (Lactuca sativa L.) TERHADAP BAKTERI Salmonella typhi

RAUDHATUL JANNAH
2024 · Book · Open Access

Demam tifoid atau typhoid fever merupakan penyakit endemik akut ditandai dengan gejala dan tanda yang khas seperti sakit perut, ruam, dan demam. Penyebab tifoid adalah bakteri Salmonella enterica serovar typhi (Salmonella typhi). Daun selada hijau (Lactuca sativa L.) merupakan salah satu tanaman yang memiliki kandungan senyawa sebagai antibakteri dikarenakan mengandung metabolit sekunder diantaranya yaitu fenol, alkaloid, flavonoid, tanin, steroid/triterpenoid dan saponin yang bermanfaat sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun selada hijau terhadap pertumbuhan Salmonella typhi yang dilihat dari diameter zona hambat. Ekstrak yang digunakan pada uji penelitian ini adalah ekstrak daun selada hijau yang dibuat dengan cara metode maserasi menggunakan etanol 70% dengan hasil rendemen 27,30%. Konsentrasi yang digunakan untuk uji aktivitas antibakteri adalah 20%, 40%. 60% dan 80%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun selada hijau memiliki aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan Salmonella typhi yang dibuat dengan berbagai macam konsentrasi. Diameter zona hambat yang terbentuk pada konsentrasi 20%, 40%, 60%, dan 80% berturut-turut 2,20 mm (lemah); 2,32 mm (lemah); 2,57 mm (lemah); 5,1 mm (sedang).

UJI AKTIVITAS MINYAK ATSIRIGANDAPURA (Gaultheria leucocarpa) TERHADAP JENTIK-JENTIK NYAMUK

AFRIZAL ANANDA
2024 · Book · Open Access

Jentik – jentik nyamuk merupakan penyebab munculnya berbagai macam penyakit, akibat perkembangbiakan dan penyebaran nyamuk sebagai vektor penyakit yang tidak terkendali. Oleh karena itu, diperlukan biolarvasida alami untuk pengendalian vektor nyamuk dan mengurangi pencemaran lingkungan dari biolarvasida kimia. Salah satu biolarvasida alami yang dapat digunakan yaitu minyak atsiri gandapura. Minyak atsiri gandapura memiliki senyawa metil salisilat yang diduga efektif berpotensi sebagai biolarvasida. Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui aktivitas minyak atsiri gandapura (Gaultheria leucocarpa) sebagai biolarvasida pada jentik-jentik nyamuk dan mengetahui nilai Lethal Concentration (LC50) dari minyak atsiri gandapura (Gaultheria leucocarpa) terhadap jentik-jentik nyamuk. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental, yang dilakukan pada bulan Februari 2023 di Laboratorium Kimia Farmasi STIKES ISFI Banjarmasin. Sampel yang digunakan berupa minyak atsiri gandapura dengan konsentrasi 100ppm, 50ppm, 25ppm, dan 12,5ppm. Data yang didapat kemudian dianalisis secara bertahap yaitu analisis uji normalitas, uji perbandingan dan uji analisis probit dengan menggunakan SPSS 26.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri gandapura (Gaultheria leucocarpa) memiliki aktivitas sebagai biolarvasida terhadap jentik-jentik nyamuk, dengan nilai Lethal Concentration (LC50) yang diperoleh adalah berada pada 22,394 ppm. Kandungan senyawa yang dimiliki minyak atsiri gandapura (Gaultheria leucocarpa) terpenoid. Efek kandungan terpenoid pada larva mempunyai sifat antifeedent yang menyebabkan larva mati karena larva tidak makan sehingga asupan nutrisi dalam tubuh larva tidak terpenuhi.