COLLECTION
Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Koleksi otomatis dari Skripsi/Tugas Akhir
Publikasi
Identifikasi Hambatan Kepatuhan Pengobatan pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Alalak Tengah Kota Banjarmasin
Tingkat Kejadian DRP (Drug Related Problems) pada Pasien Hipertensi di Rumah Sakit Bhayangkara TK III Banjarmasin Periode 2024
Analisis Medication Error pada Fase Peresepan (Prescribing) pada Pasien di Puskesmas Pekauman Tahun 2024
Profil Efek Samping DILI (Drug-Induced Liver Injury) pada Penggunaan Obat Antituberkulosis pada Pasien TB Paru Fase Intensif Rawat Inap di RSUD Ulin Banjarmasin
Korelasi Tekanan Darah dengan Kualitas Hidup Pasien Hipertensi yang Menjalani Pengobatan di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Banjarbaru
AKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOL DAUN KALANGKALA (Litsea garciae V) TERHADAP Candida albicans SECARA IN-VITRO
Daun kalangkala atau Litsea garciae V merupakan salah satu tumbuhan khas Kalimantan yang digunakan sebagai antidiare, penyakit kulit, penyakit infeksi dan antikanker. Berbagai studi telah mengidentifikasi kandungan alkaloid, tanin, flavonoid, saponin, dan steroid dari tanaman kalangkala yang berpotensi memiliki aktivitas antijamur. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menguji aktivitas antijamur dari ekstrak etanol Litsea garciae V terhadap jamur Candida albicans. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris secara in vitro. Daun L. garciae diolah simplisia dan diekstrak dengan metode maserasi dalam pelarut etanol 70%. Ekstrak selanjutnya dilakukan uji skrining fitokimia dan uji bebas etanol. Aktivitas antijamur dengan menentukan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM). Uji KHM dilakukan dengan metode dilusi cair dan uji KBM menggunakan metode dilusi padat. Hasil proses pengolahan simplisia didapatkan susut pengeringan sebesar 57,04%, proses ekstraksi didapatkan rendemen sebesar 7,5%. Hasil skrining fitokimia ekstrak kalangkala mengandung flavonoid, alkaloid, steroid, tanin, dan saponin. Pengujian aktivitas antijamur dilakukan pada konsentrasi 3,125%, 6,25%, 12,5%, 25%, dan 50% dengan kontrol positif nystatin. Penelitian ini memperoleh hasil uji KHM terhadap C. Albicans pada konsentrasi 6,25% dengan nilai KBM yang tidak berhasil diperoleh. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% L. garciae memiliki potensi antijamur yang terbatas pada penghambatan pertumbuhan, tetapi tidak efektif dalam membunuh jamur.
HUBUNGAN PROFIL SOSIODEMOGRAFI DAN PENYAKIT HIPERTENSI DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN DI PUSKESMAS ALALAK SELATAN KOTA BANJARMASIN
Hipertensi merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikendalikan melalui pengobatan jangka panjang, yang berpotensi memengaruhi kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sosiodemografi pasien hipertensi, menilai kualitas hidup, dan menganalisis hubungan antara sosiodemografi penyakit hipertensi dengan kualitas hidup di Puskesmas Alalak Selatan kota Banjarmasin. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan 85 responden yang diambil melalui teknik consecutive sampling pada Agustus 2024. Kualitas hidup diukur menggunakan instrumen Short Form 6 Dimension (SF-6D), sedangkan data demografi diperoleh dari wawancara dan rekam medis. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS dengan uji chi-square untuk melihat hubungan dan index calculator untuk melihat nilai kualitas hidup. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden adalah perempuan (72,9%), berusia 45–54 tahun (41,2%), dengan tingkat pendidikan rendah (35,3% tamat SD), dan sebagian besar tidak bekerja (60,0%). Sebanyak 54,1% responden telah menderita hipertensi lebih dari dua tahun, dan 61,2% tidak memiliki penyakit penyerta. Mayoritas pasien (90,6%) memiliki kualitas hidup baik (nilai indeks utilitas ≥0,5), sementara 9,4% memiliki kualitas hidup buruk (<0,5). Analisis statistik menunjukkan bahwa penyakit penyerta (p = 0,002) dan kategori hipertensi (p = 0,041) memiliki hubungan signifikan dengan kualitas hidup, sedangkan faktor lain seperti usia, jenis kelamin, dan pendidikan pekerjaan, lama menderita, dan riwayat hipertensi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kualitas hidup pasien hipertensi di Puskesmas Alalak Selatan sebagian besar tergolong baik. Namun, faktor penyakit penyerta dan tingkat keparahan hipertensi memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas hidup pasien. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pengelolaan penyakit penyerta dan kontrol tekanan darah yang lebih optimal untuk meningkatkan kualitas hidup pasien hipertensi.
HUBUNGAN KEPATUHAN PENGOBATAN DENGAN KADAR GLUKOSA DARAH PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS AWAYAN KABUPATEN BALANGAN
Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena adanya gangguan pada sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Diabetes melitus adalah penyakit kronis yang membutuhkan terapi obat jangka panjang. Ketidakpatuhan pengobatan pasien diabetes melitus akan berdampak pada kadar gula darah yang tidak terkontrol. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat korelasi antara kepatuhan pengobatan dengan kadar gula darah pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Awayan Kabupaten Balangan. Penelitian menggunakan desain observasional cross sectional. Pengumpulan data dilakukan secara prospektif. Data dikumpulkan dari pasien diabetes melitus di Puskesmas Awayan pada periode bulan Juni-Juli 2024. Sebanyak 47 sampel digunakan pada penelitian ini. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling. Data kepatuhan pengambilan obat ulang diukur menggunakan kuesioner ARMS dan data kadar glukosa darah diperoleh dari hasil pengukuran tenaga kesehatan di Puskesmas. Data hasil penelitian diuji korelasi dengan menggunakan Uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menemukan bahwa skor rata-rata kepatuhan pengobatan pasien diabetes melitus adalah 12,78 +- 1,06, sedangkan rata-rata kadar glukosa darah pasien adalah 216,76 +- 52,11 mg/dL. Hasil uji korelasi antara kepatuhan dengan kadar glukosa darah adalah 0,101 (p>0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kepatuhan pengobatan tidak memiliki korelasi yang signifikan dengan kadar glukosa darah pasien diabetes melitus di Puskesmas Awayan Balangan.